Kemenangan Sesungguhnya


Alhamdulillah, akhirnya tiba juga. Syawal tiba, saatnya meraih kemenangan sesungguhnya. Setelah sebulan penuh berpuasa, tentu buat kami yang perempuan nggak bisa full yaa. Kodrat kewanitaan, seperti biasa mengharuskan kami mengganti setelah 6 hari puasa Syawal nanti

Sulung sudah berbisik, "Bu, Abang Kemal minta maaf ya belum bisa pulang. Pekerjaan belum bisa ditinggal. Bahkan ini abang harus berangkat ke Tamalate Makasar. Setelah itu shooting terakhir di Bogor. Ini projek job Film terpanjang yang Abang garap, setelahnya pulang menemani ibuku jelang Syawal ya Bu." 2 minggu lalu. 

Punya tiga jagoan, tetapi satu nggak kumpul bersama itu rasanya tetap ada yang kurang. Tapi doa dan suport sebagai ibu takkan pernah kulupakan. Jumat lalu sebuah SS transferan menyertai chatnya. 
"Maafin Abang ya Bu, masih belum selesai, doakan maksimal malam Takbir sudah bisa kumpul sama adik-adik Abang," katanya. 
Aach, hanya memintamu tetap sehat dan selalu terjaga dalam ibadah. 

Abang Luthfi dan Adek Hussein tak kalah baiknya anakku. Adek Hussein pulang bukber di kantornya mampir sejenak di Tip top katanya, segala keperluan terutama migor yang masih bertengger asyik di harga tertinggi tahun ini, dia belikan untuk ibunya. Abang luthfi juga sudah mengingatkan jauh-jauh hari zakat sebelum Takbir berbunyi. 

Hanya itu mutiara ms Juli setiap tahun menghadapi Syawal. Apalagi mereka tahu, ibunya masih menunggu untuk kepastian mudik. Aku tahu mereka rindu dengan mbah, om-omnya, sepupu, juga suasana mudik seperti biasa. Mereka nggak pernah absen ikut pulang mudik ke Jogja dan Semarang. Hanya kurang Lampung saat ini mereka belum sempat bertemu budenya alm dan tiga sepupunya di sana. Juga keluarga besar mbak Uyutnya. 

Kesibukan nggak terlalu banyak, lebih mengedepankan keutamaan ibadah ketimbang pernak pernik perabot lenong yang senantiasa menghiasi Iedul Fitri. Anakku laki-laki semua jadi ringkes juga cara berpikir, apalagi ms Juli satu-satunya mahluk syantik anugerah Allah. Sebaper apapun takkan jadi emosi mereka menanggapi. Justru mereka takut jika sampai seorang ms Juli nggak stabil emosi jiwanya, sehingga kebahagiaan rumah pasti akan oleng, betul apa betul? 

Ketupat, rendang, dan sambal goreng hati nggak boleh dilupakan kehadirannya yang hanya setahun sekali menemani. Setelah bulan-bulan sebelumnya mereka mengurangi konsumsi nasi, gorengan, atau yang manis-manis, bolehlah ms Juli memanjakan keluarga dengan makanan khas Lebaran. Hihi apalagi pandemi ini, selalu bikin mager kebanyakan WFH mereka di rumah. Bicara langsing jauh-jauh deh. Sehat utamanya dengan pola makan dan pola hidup juga berpikir. 

Syawalku tetap menjadi gerbang bagi kami, apakah Ramadan ini bisa diteruskan secara istiqomah seluruh kebiasaan baik yang sudah dirapihkan melalui shaum, ibadah sunah, dan qiyamullailnya. Bukan berarti harus melepas hawa nafsu yang hanya memperturutkan perut dan mata, sehingga melalaikan kami akan kewajiban ibadah aesungguhnya. 

Ya Allah, jadikan Syawal ini penyambung silaturahmi terbaikku, gerbang penjagaku dan keluarga agar terus komit dalam kewajiban ibadah. Jangan leburkan segalanya dengan godaan-godaan yang akan menghapus amalan dan menambah dosa yang ada. Mengurangipun butuh perjuangan dan waktu. ...

Buat sahabat, kerabat, dan handai tolan, “Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum, kullu 'amin wa antum bikhoir.” Doanya Allah menerima (puasa) kita dan setiap tahun, dan kita senantiasa dalam kebaikan. Aammmin allahumma aammin🙏

#day21
#TantanganMenulisRamadan
#NurulAmanahPublishing
#JoeraganArtikel



Posting Komentar

0 Komentar