๐—ฆ๐—ฒ๐˜๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐Ÿฑ ๐—ง๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ป (3)


๐˜ฝ๐™ฎ ๐™ˆ๐™จ ๐™…๐™ช๐™ก๐™ž

Akhirnya bulan ke-4, papah-mamah datang ke tempat kostku yang baru. Ya, karena aku  sudah menikah, ingin ada kamar sendiri, tidak bergabung dengan kawan seperti biasanya. Masalah privasi, itu alasan utamanya. Aku  pindah tepat di bulan ke-4 sejak orangtua mengusir dari rumah, dua minggu sejak menikah.

Mamah menangis tanpa henti, papah kaku sekali terlihat hanya mata tuanya mencerminkan kerinduan yang tak bisa kutatap lebih lama. Kami sangat dekat, begitu dekat. Papah membentukku menjadi anak tomboy sejak kecil, setiap beliau ditugaskan Garuda tempat beliau mengabdi untuk pelatihan ke luar negeri selama 6 bulan,  selalu mengingatkan aku untuk mengurus keperluan rumah. Naik genteng saat bocor, setrika yang nggak panas, atau apapun yang berhubungan dengan tugas laki-laki beliau percayakan padaku. Jika tidak bisa kulakukan, beliau selalu meminta tukang kepercayaan yang sudah seperti adik papah, dan harus kudampingi jika butuh apa-apa. 

Sedih sekali melihat keadaan itu. Aku  menutupi keadaan pernikahan, takut mengoyak kemesraan yang baru dijalin lagi. Biarlah, Allah maha tahu apa yang ada dalam hati ini. Kelak aku percaya akan mendapat restu orang tua. Yakin sekali, dan  aku memilih lebih banyak diam.

Bersyukur sebenarnya, aku belum diberi kehamilan. Selain masih kuliah, juga belum mendapat restu mamah-papah. Aku tidak berdoa meminta itu, namun yakin Allah punya maksud dibalik belum hamil sampai kelak menikah resmi di depan orang tuaku.

Hingga tiba, saat  yang tidak kuduga. Mamah sakit dan harus dirawat di RS Persahabatan Jakarta. Mamah kangen, dan meminta papah menelponku ke induk semang kost. Untungnya saat itu kuliah sudah sedikit longgar, karena menjelang ujian semester. Aku menempuh  jarak Bogor-Jakarta, dan Bekasi bolak-balik.

Dari Bogor aku ke rumah sakit, menemani mamah, meladeni keperluannya walau ada suster 24 jam tapi tentu lebih nyaman kalau ada keluarga, kulakukan tanpa sedikitpun mengeluh, kadang bergantian dengan suami. Saat dia menjaga mamah, aku pulang ke rumah Bekasi. Beres-beres rumah dan mencuci pakaian mamah, juga keluarga. Mamah memang tidak pernah memakai khadimat. Semua aku lakukan dengan ikhlas. Bentuk baktiku pada mamah yang telah melahirkan dan membesarkanku sampai saat ini.

Kakak dan adik perempuan sebenarnya juga sedang liburan, tapi mereka memilih cuek dan justru memilih bertengkar denganku, dengan menyindir, serta memancing emosiku, suabaaaar๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ. Aku berusaha tidak terpancing. Mamah di rumah sakit sedang berjuang melawan penyakitnya, aku tidak ingin menambah beban pikiran papah juga. Walau  gejolak muda tidak bisa ditahan, namun aku berusaha terus istighfar. Mempercepat kerja, membereskan rumah. Menyiapkan segala keperluan  papah dan 2  adik laki-laki yang  masih  SMP. Setelah itu, berangkat lagi ke rumah sakit, lelaaah itu pasti.

#eventSJB
#StatusJadiBuku2
#JoeraganArtikel
#ChallengeStatus
#Nulis20hari
#Harike3

Posting Komentar

0 Komentar