Hari Tua Kita Ingin Seperti Apa?

Zaman memang sudah berubah, inilah tahun-tahun hijrah. Sosial media membuat ilmu meluncur bagaikan peluru mengarah semua penjuru. Di sudut kamar atau di pinggir sawah, di meja kafe, di dalam mobil, cukup dengan tekan play ...Kajian-kajian yang mengajak pada kebaikan bisa dilihat dengan mudah. Ratusan ribu judul, terpilah dengan rapi dan lengkap. Sisi positif sosial media membuat banyak hati tertaut, yang gelisah berbondong-bondong ikut berhijrah..

Segala profesi, dari artis hingga pengusaha. Dari komunitas-komunitas ngaji di berbagai kota, hingga gerakan-gerakan kebaikan lainnya..

Waktu itu seisi studio TV One terdiam, mata presenternya berkaca-kaca, tak terkecuali saya dan Jamil Azzaini yang duduk di sampingnya. Suara Mbah Asrori begitu merdu membacakan ayat suci Al Quran, usianya sudah 93 tahun waktu tahun 2015 itu.

Siapa lelaki tua itu? Tak akan terkenal di dunia jika seorang Fajar Ali Imron Rosyidi tidak iseng memotretnya. Sebuah jepretan yang membuat banyak mata terbelalak. Lelaki tua dari Gayamsari Semarang itu sudah 30 tahun setiap Jumat naik sepeda berkeliling, bersedekah 100 hingga 300 nasi bungkus kepada siapapun yang ditemui. Dan nasi-nasi bungkus itu dibeli dari uang hasil mengajar ngaji, juga titipan orang-orang yang simpati.

“Mbah, Apa rahasia panjenengan panjang umurnya?” Tanya saya ketika di dalam mobil dari Bandara Halim menuju Epicentrum

“Syaratnya tiga! Kamu harus rajin baca Quran, kamu harus banyak silaturahmi tidak boleh punya musuh satupun, dan kamu harus rutin bersedekah!”

Makjleb dan singkat pesannya, tapi begitu mengena. Lahir tahun 1922 beliau melewati zaman Belanda, Zaman Jepang, Zaman kemerdekaan, zaman PKI memberontak, zaman orde baru, zaman reformasi hingga masih berdiri tegap hari ini, makin takjub ketika beliau mengeluarkan tablet dan HP dari saku jasnya.. 

“Kabeh dikei uwong!” Semua benda itu diberi oleh orang-orang, kata beliau sambil tertawa.. tak nampak lagi satupun giginya!

Oktober lalu ketika saya akan bertemu beliau di Semarang, mas Fajar mengontak saya. 

“Mas kaki simbah sedang sakit gak bisa naik sepeda, dan beliau tetap membagi nasi hari ini, saya mengantarnya naik mobil sampai menjelang jumatan nanti. Kita ketemu di Masjid Agung Jawa Tengah yaaa ...” 

Kiriman video ketika simbah membagi nasi membuat hati saya makin gerimis, kalian lihat saja dibawah ini. Di usia sudah 96 tahun suaranya begitu lantang menebar salam. Satu-satu nasi itu diberikan langsung oleh tangannya.. 

“Assalamualaikum! Ini ada nasi ...”
“Assalamualaikum! Ini buat kamu ...”
“Assalamualaikum! Dibagi semua yaa ...”

Allahu Akbarr ... Allahu Akbarr ...

Inilah orang kaya sesungguhnya! Begitu kaya raya! Selama 30 tahun dengan ikhlas sedekah itu dilakukannya, entah sudah berapa ratus ribu nasi bungkus dibagikannya, tanpa harus pamer di sosial media, menggetarkan langit.. malaikat sibuk mencatat kebaikan-kebaikannya. Allah berikan keberkahan di usianya hingga panjang usia.

Ketika bertemu di masjid, saya cium tangannya, saya rangkul berjalan menuju dalam masjid di lantai dua.

“Ajeng lenggah ten pundi mbah?” Saya tawarkan mau duduk dimana

“Shaff terdepan.. kita kesana” jawab simbah mantab

Saya kebagian tempat di belakang beliau, memotret lelaki tua itu tunduk takhluk lewat sujud-sujud panjang kepada penciptaNya..

Mas Fajar bercerita lagi, simbah juga sangat lantang menentang riba, beliau tanpa ragu mengingatkan orang yang ditemuinya

“Pernah mas di masjid kami ada orang yang nyebar-nyebar brosur kreditan di depan masjid kepada jamaah yang mau sholat, tidak ada yang berani melarang. Ketika menjelang magrib simbah rawuh, orang itu langsung didekati, dan kata-kata simbah langsung makjleb! ...”

Apa itu mas?

“Nek caramu koyo ngene, uripmu ora bakal berkah!”

Kalau caramu cari uang seperti ini, hidupmu tidak akan dapat keberkahan... JLEB!!

“Si pemberi kredit sampai bengong, sampai nanya ke saya siapa simbah itu.. langsung saya bukakan youtube, dan saya tunjukkan profil simbah. Dia langsung terdiam..”

“Allah memusnahkan RIBA dan menyuburkan SEDEKAH. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa..”
-QS Al Baqarah 276

Ternyata jawaban untuk kehancuran RIBA adalah SEDEKAH! Itu ilmu dari ALLAH langsung, nggak akan salah! Nggak akan mungkin salah! Mbah Asrori jadi bukti nyata keberkahan dalam hidupnya..

Betapa saya ikut nyesek, ketika ada yang mengirim capturan di Facebook, seorang lelaki tua yang masih tandatangan akad riba di depan meja sebuah bank. Hari-hari tua yang harusnya fokus untuk ibadah dan berbuat kebaikan, akan menjadi hari-hari penuh tagihan, cicilan dan kegelisahaan.. jaaauh berbeda dengan hari-hari Mbah Asrori yang penuh ketenangan dan keberkahan.

“Mas Saptu, besok Simbah manasik umroh di Jogja, Jumat ini saya berangkat dari Semarang dengan simbah mau mampir ke Tengkleng Hohah, mas Saptu di Jogja yaa ...” isi WA mas Fajar kemarin kepada saya. Simbah begitu sehatnya, nggak punya pantangan makan apapun di hari tuanya. 

Ya Allah ... semoga keberkahan hadir di warung saya, kedatangan Ahli Sedekah yang di langit namanya begitu menggema ... Guru kehidupan yang menampar semua kesombongan di dada.. 

Bagaimana dengan dirimu? 
Masa tuamu ingin seperti apa?

Lakukan kebaikan dari sekarang, agar semua perjalanan hidup ini tak sia-sia..
kelak pulang dengan kebanggaan yang akan dibawa menghadap Sang Pencipta.. 

*copas 
@Saptuari

#belajarhidup
#mencarijalanpulang   
#Menuju Surgamu

Posting Komentar

4 Komentar

  1. Masyaallah, mbahnya hebaat banget. kita aja yang masih muda belum tentu bisa begitu, padahal lebih daripada si mbah. malu bangeeet ya. semoga kita pun juga dimudahkan untuk bersedekah. Aamiin.

    BalasHapus
  2. “Allah memusnahkan RIBA dan menyuburkan SEDEKAH. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa..” Masya Allah, membaca ceritanya saja, gerimis juga mata saya. Benar-benar teladan bagi kita semua apa yang dilakukan Mbah Asrori.
    Terima kasih sudah membagikan cerita ini Mis juli

    BalasHapus
  3. Masya Allah, selalu suka tulisan mas saptuari... Makasih miss, saya jadi bisa mengambil ibrah dari kisah mbah asrori melalui postingan blog miss

    BalasHapus
  4. Tak perlu menjadi kaya untuk berbagi ya Miss. Karena sejatinya apa yang kita tabur itu yang akan kita tuai. Semoga kita semua bisa belajar jadi dermawan yang humble dan punya niat tulus untuk berbagi. Amin.

    BalasHapus