Ketika Allah Menitipkan Hidayah Lewatmu


Sendu pilu melaju genangan, tertunduk merunduk dalam renungan. Tamparan itu hadir pada waktu yang tepat. Saat amarah dan nasihat hadir terus mengaduk emosi jiwa . . . Sang Maha, hidayah-Mu hadir di keagungan waktu. 

Bagai busur waktu, sekejap . . . Saat maut terus mengintai setiap waktu. Mengingatkan akan tutur tingkah laku, tersirat dan tersurat untuk menuju. Walau kayuhan doa senantiasa dilantunkan, namun kenyataan nya iblis genit menggoda dosa. 

Ketika maut menghadang, telanjang aku dalam tatapan. Nanar menatap amal yang minim dalam hitungan. Berat dalam gerakan namun tak siap dalam hentakannya. Rasanya ingin berontak menahan waktu.

Imamku, egoku kadang menderu beku meyakinin keagungan cintamu.  Percayalah, dalam sadarku lelahmu menggiringku dalam kebenaran-Nya. Walau prosesnya tak secepat keinginan bagai sekejab. Bila keyakinan tunduk dalam keridhaan mu meraih surga-Nya.

Mempersiapkan takdir tak semulus keinginan. Menjalani sampan bidukmu dengan ragu tak membuat segalanya menjadi nikmat. Hanya keikhlasan dipimpinmu dalam niatan. Mengharap pulang Khusnul khatimah dalam tetapan dan bersama. 

Antar aku menjadi bidadari surgamu dalam kenyataan yah. Seberat apapun langkahku terseok dalam Sami'na Wa Atho'na. Istiqomah ku tanpa kata tapi dan nanti. Ketidak sempurnakanku dalam rengkuhanmu tak mengurangi ketaatanku.

Tambun Bekasi, 23-02-2020

#prosaisantologipuisi
#kelaspuisiJA

Posting Komentar

0 Komentar