Nak, kelak menjadi dokter, therapist, atau apapun yang tujuannya membantu seseorang meraih kesehatan, janganlah semena-mena. Semahal apapun, berapa pun biaya yang engkau keluarkan untuk meraih keilmuan, jangan abaikan harapan pasien padamu. Jawablah sesuai pengalaman dan kemampuanmu dengan bijak, bukan dikejar target dan materi sesaat, seletih apapun keadaanmu. 

Andaipun usia harapan menurutmu tak mungkin, ingatlah . . . Analisa dari sisi medis, ilmiah, dan besarkan harapannya. Jangan katakan yang menyakitkan langsung kepada pasienmu. Karena engkau bukanlah penentu umur dan kesehatan seseorang, katakan tugas kita berikhtiar tapi pada Allah lah kembali. Jika diberikan pemahaman siapapun yang sakit akan tawwakal, usaha dan ikhtiar miliknya, hasilnya hanya untuk Allah dulu, Allah lagi, dan selalu Allah. 

Kepopuleranmu bukan ditentukan oleh menterngnya sebuah RS, banyaknya pasien, dan mujarabnya obat. Ingat, engkau hanya perantara, Ridha Allah atas kesembuhan dan keselamatan pasien tetap milik Allah. Kebaikan hatimu, bijaksanamu, dan lelahmu yang tetap tersenyum ramah pada pasien, serta selalu memberikan harapan, itulah KEPOPULERANMU. Semua akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah anakku . . .

Jadilah dokter, therapis tanpa malpraktik. InshaAllah berkah dunia akhirat hidupmu. Jangan mau dikuasai monopoli dan kapitalisme dunia medis semata. Akhirnya, hanya UANG sesembahan segalanya dari seorang manusia. Nauzubillah min dzalik. 

#muhasabahdiri
#evadir
#transaksilahdenganAllah

Salam Hangat,