Catatan Mis Juli (20)

Kisah sebelumnya
http://misjulie.blogspot.com/2019/11/catatan-mis-juli-19.html

Menjadi guru adalah kebahagiaan yang tak ternilai dengan rupiah. Walau tidak munafik segalanya membutuhkan rupiah, namun tidak melulu rupiah dapat membeli segalanya. Kebahagiaan sederhana dapat diperoleh hanya dengan mendengar alumni atau siswa yang pernah diajar mengabarkan kesuksesannya, mengingat ma Juli sebagai gurunya. 

Yang mudah adalah mengingat siapa guru yang mengajarkan kita, tak mungkin guru mengingat anak didiknya, terlebih seperti ms Juli yang sekali mengajar satu angkatan minimal 3 sampai 4 kelas. Kalau saja satu kelasnya minimal 20 siswa sampai 50 siswa maksimal kebayangkan? Berapa jumlah siswa yang ms ajar selama hampir 30 tahun mengajar, sejak sebelum tahun 90 sebelum berangkat kuliah hingga detik ini. 

Baik itu siswa TPA, bimbel, atau juga siswa di kelas sesungguhnya. Ms Juli nggak pernah pilih-pilih. Hanya, prinsipnya adalah selalu membuat tutor teman sebaya bagi pelajaran matematika. Akan sangat meringankan ms di kelas. Lagipula akan menjadi kebanggaan dan semangat jika siswa dapat membantu teman lainnya untuk bisa. Seperti ms Juli dulu waktu SMA. 

Sejak kelas 10 sampai kelas 12 ms Juli dijadikan asisten oleh guru mapel MIPA, seperti matematika, kimia, dan fisika. Tiga mapel yang dianggap macan oleh sebagian besar siswa di jurusan IPA. Padahal ms Juli juga nggak pinter-pinter amat loh, hanya kemauan untuk mencoba, belajar, dan mau bertanya lebih banyak dari siswa lainnya.

Jadi kalau ada praktik, atau materi yang dianggap susah ms Juli membantu menjelaskan dengan menggunakan bahasa yang dimengerti oleh teman-temannya ms di kelas. Alhamdulillah, sampai sekarang prinsip itu terus dilakukan. Membentuk tutor teman sebaya yang bisa menjelaskan kepada temannya dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh antar sesama siswa. 

Banyak dampak yang bisa ditularkan kepada sesama siswa. Jadi ingin bisa juga, kelas lebih hidup dan mau saling berbagi, juga saling mengingatkan. Nggak penting buat ms Juli nilai 100 jika hanya tinggal copas. Yang ms inginkan adalah mereka mau berproses untuk bisa memahami materi demi materi. 

Sejak belajar online dan internet mulai diaktifkan, ms Juli pun dituntut untuk bisa memahami cara mengajar zaman terkini. Karena kalau tidak, ms Juli akan gaptek dan ditinggal siswa. 

ARTI GURU 4,0 Mengajar sesuai Zamannya

Peran guru tak pernah bisa digantikan oleh teknologi secanggih apapun karena guru bukan sekadar sumber belajar, melainkan juga penyampai nilai-nilai. ( Nadiem Anwar Makarim, Mendikbud). Tahun ini dan lima tahun ke depan kita memiliki Mentri yang memang berangkat dari usaha online. Kita tunggu gebrakan bagi peningkatan pendidikan Indonesia ke depan. 

Walau bukan lagi guru center learning tapi student center learning kini, nggak dipungkiri peran kita berarti atau tidaknya tergantung niat ibadahnya juga. Karena buat ms Juli, siswa setiap tahun berapa kelas pun adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan nanti. Dan kebahagiaan guru sejatinya adalah ketika kita menjadi inspirasi untuk mereka ketika mereka merasakan peningkatan dan kesuksesan nanti sekecil apapun. 

Ketika ms mendapat tantangan untuk mengajar mata pelajaran Produk Kreatif dan kewirausahaan di SMK ini, berusaha menerima dengan menjadi guru terbaik di kelas ini. Mata pelajaran yang ditujukan untuk membekali lulusan nanti untuk menjadi siswa yang kompeten untuk membuka lapangan kerja, minimal berdagang sehingga tidak melulu mengandalkan lapangan kerja semata. 

Senangnya itu adalah ketika siswa Ms Juli  dapet AHA MOMENT nya ketika membaca kisah 5 profil pebisnis sukses luarnegri yang mereka pilih, Soichiro Honda, Kolonel Sanders KFC, JK Rowling-Harry Potters, Bill Gates-Microsoft, Jack Ma alibaba.com. sebagai motivator mereka untuk melecut semangat belajar di mapel ini,  seneeeeng banget mata mereka jadi melek dan terbuka. Saking senengnya semua kutipan motivasi mereka tulis semua eaaaaa. Disuruh nulis selembar dan sempet protes (biasaa, belum dikerjain udah bilang capek). 

Eh hasil tulisannya malah buanyaaaak deh😍🤩☺. Anak milenial . . . Sekarang🤭

Menjadi guru yang disegani, disenangi, bahkan menginspirasi itu tidaklah mudah. Namun bukan mustahil, butuh kemauan dan belajar untuk melecut diri sendiri. Dengan memberi contoh langsung dan turun sendiri, ternyata hasilnya lebih maksimal. Mau mengenal dan memahami talenta dan kelebihan setiap siswa adalah sesuatu yang wajib ms kerjakan. 

Terkadang ms Juli bisa asyik ngobrol bersama mereka, menyanyi, atau makan bareng. Suatu saat bisa asyik membantu mereka mengerjakan tugas matematika yang menurut mereka susah. Nggak tabu menjadi seperti mereka, mensejajarkan diri,  menempatkan posisi menjadi teman atau rekan kerja saat harus dalam team. Itu kenapa mereka tahu, kapan ms harus bersikap dan diam khusuk pada pekerjaan. 

Bukan hanya bisanya memberikan perintah dan duduk manis menunggu hasil. Terkadang ada siswa yang tanpa diminta juga akan maju sendiri, tapi ada juga yang merasa nggak pede dan harus dicolek untuk bisa berkomunikasi terus dengan kita. Nggak bedalah mereka dengan anak-anak ms di rumah. Setiap mereka adalah unik dan harus dinikmati sebagai amanah yang akan menjadi ladang amal kita. 

Memang untuk tingkat SMP hingga SMK sebaiknya guru mapel mereka adalah guru yang terus bisa mengawal mereka sejak awal hingga lulus. Sehingga sudah lebih memahami sifat dan masalah utama mereka di kelas masing-masing. Bagaimana kelebihan dan kekurangan siswa serta bagaimana cara menaklukan mereka dengan bijak. 

Sudah tiga tahun belakangan ini sekolah Ms menerapkan metode ini. Dampaknya memang luar biasa. Sehingga ketika April ini meluluskan kelas 12 lalu, ms merasakan sendiri bagaimana detik demi detik perkembangannya, membentuk mereka dengan segala keunikannya. Dan, hampir 30 tahun mengajar ms baru ini kehilangan satu siswa sebelum ijazah dibagikan. Mas Fadel siswa kelas 12 TKR-3 tahun pelajaran 2018-2019 yang meninggal karena sakit seminggu sebelum ijazah keluar dan sempat cap 3 jari. 

Adalah kesedihan yang mendalam, karena ms tahu bagaimana di kelas 11 nya sampai dengan selesai ujiannya. Itulah ms Juli, kata keluarga begitu menjiwai dan mendarah daging mengajar di kelas. 

Pintar dapat diraih, namun karakter itu harus dibentuk dengan bantuan guru yang terus menerus dan sabar membimbing mereka. Menjadi guru itu gampang, siapapun bisa melakukan sekalipun itu pemulung. Namun, menjadi pendidik itu bukan hal mudah. Guru yang mau terus mendidik dimanapun dia berada. Tak jemu mengingatkan siswanya mana yang salah atau benar. Jika salah yang diajarkan dan siswa menerus kesalahan itu, dosalah yang dituai, namun kebenaran yang diberikan dan terus diajarkan ke siapapun oleh peserta didik kebaikan itu, tentu menjadi pahala yang akan terus mengalir bukan?

Guru kencing berdiri, murid kencing berlari, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Demikian peribahasa-peribahasa yang sering dipakai untuk menggambarkan betapa, siswa mengikuti apa yang gurunya ajarkam di kelas. Untuk itu perlu kehati-hatian agar bisa menjadi GURU yang digugu (didengar) dan ditiru (dicontoh). Semoga tulisan ini bisa menjadi pengalaman dan sharing bagi rekan guru lain di manapun. Bahwa menjadi pendidik itu adalah membahagiakan, jika kita tulus melaksanakan dengan hati.

Posting Komentar

0 Komentar