Kisah sebelumnya:

https://misjulie.blogspot.com/2019/10/catatan-mis-juli-2.html?m=1

Pada suatu hari, Ms Juli dipanggil bapak Purwanto sebagai ketua yayasan. Beliau menyampaikan bahwa keadaan sekolah sedang akan dirubah dari sekolah biasa pulang jam 12 ke bentuk global sampai jam 14.30. itu sebenarnya sudah ms dengar, namun rupanya akan ada bedol desa istilahnya. Mengapa? Kepsek sebelumnya yang merupakan adik pak Purwanto akan menarik guru-guru nya ke sekolah baru.

Sebenarnya juga Ms sudah ditawari, tapi sejujurnya tidak tega meninggalkan bapak di sekolah ini sendirian. Mana sekolah lagi ada kasus penyiletan anak oleh guru kelas 3 yang masuk siang. Jelasnya cerita sesungguhnya tidak pernah tahu, karena kejadiannya terjadi di kelas. Saat itu seluruh anak diminta menutup mata dan menunduk. Nah saat itu pula anak tersebut katanya dihukum dengan cara disilet menggunakan alat silet oleh oknum guru tersebut.

Entah, apakah kejadian itu terjadi tanpa disengaja atau dirancang untuk menjadi alat bagi kejatuhan sekolah ini. Kasus ini merebak sampai seluruh antero negeri. Mengapa? Koran lokal dan nasional memuat kasus itu bagaikan kacang goreng, laris sekali. Rasanya berbarengan sekali. Sempat terjadi demo dari orangtua siswa yang khawatir anaknya akan mengalami masalah serupa.

Bahkan sempat terjadi kasus pemindahan anak ke sekolah lain, anehnya? Sekolah baru yang sudah dibuat oleh kepsek lama. Nggak curiga, tetapi seolah seakan ini sudah direncanakan. Polisi dan kak Seto sempat hadir untuk menyelidiki dan menenangkan masa. Ms Juli saat itu berada di posisi mana? Ms Juli tetap mengajar dengan tenang dan penuh kasih sayang.

Saat itu orangtua siswa cukup tenang menitipkan anak-anak kelasnya pada ms Juli. Ms Juli memang galak, tetapi tidak pernah menggunakan tangan ataupun membuat anak takut tanpa alasan. Galak karena disiplin dan tegas tentu berbeda. Walau orangtua sempat berdiskusi tentang kejadian yang terjadi di anak kelas siang tersebut, anak-anak kelas dua pegangan ms Juli aman semua. Tetap dinamis, bahkan membuat prestasi dengan menjadi juara calistung sampai tingkat kabupaten.

Ini adalah hal yang menjadi obat bagi orangtua lainnya. Menjadi penyeimbang berita-berita di luaran yang sudah melebar dan membentuk opini negatif tentang sekolah ini. Walau tak juga masuk koran, namun fakta di lapangan, anak di sekolah ini semua tidak ada yang mengalami hal ini satupun. Saat kejadian semua anak menutup mata. Jadi, pada saat diminta kesaksiannya mereka tidak ada yang bisa memberikan bukti yang menguatkan ibu tersebut yang melaporkan kejadian ini sebagai pelanggaran HAM anak.

Setelah sekolah sempat terganggu selama dua bulan dengan wartawan dan pihak kepolisian yang terus berdatangan dengan keperluan masing-masing, akhirnya bisa kembali tenang melakukan aktifitas seperti biasa. Oknum guru yang bersangkutan diminta non aktif mengajar.

Satu hal yang disyukuri oleh beberapa teman baru, mereka bersyukur hal ini menjadi peredam sifat oknum guru tersebut yang memang sangat galak dan selalu membuli guru baru dengan sindiran, atau pengerjaan dengan meminta traktir bakso teman satu  kantor tersebut. Entah kejadian ini terjadi atas kehendak Allah atau tidak, sejak itu beliau lebih diam dan sangat berhati-hati dalam bersikap.

Itu mengapa saat Ms Juli dipanggil bapak Purwanto, mantap menjawab untuk tetap bertahan di sekolah ini. Tidak ikutan untuk pindah ke sekolah baru tersebut mulai tahun ajaran baru nanti. Kasihan, tentu bapak akan banyak merekrut guru baru, di tengah kepercayaan orangtua yang menurun.

Rupanya pilihan ms Juli ini sempat disudutkan sebagai penolakan terhadap kepsek sekaligus owner sekolah baru tersebut. Penolakan itu dianggap menyakiti beliau, karena beliau berharap reputasi sekolah akan naik jika ms Juli bersama beliau di sana. Beliau merasa bagusnya ms Juli adalah bentukan beliau yang berjasa mulai dari penerimaan Ms di situ.

Berapa kali pula Ms Juli dipanggil oleh kepala sekolah yang baru dan menggantikan beliau yang lama serta pindah ke sekolah baru. Kepala sekolah baru itu curhat ke Ms Juli bahwa beliau sering ditelpon untuk membujukku agar mau pindah ke sekolah baru tersebut. Pak Gunawan sempat berkata bahwa beliau tentu akan kehilangan guru-gurunya yang bagus jika ms Juli juga ditarik ke sana.

Kepala sekolah lama dengan keras berkata bahwa, guru-guru itu adalah bentukan beliau dengan aturan dan tangannya sendiri hingga jadi bagus. Kalau mau bagus ya harus membentuk sendiri, bukan dari guru yang ada. Ms Juli hanya tertegun dengan penyampaian tersebut, namun tetap pada pendirian. Akan bertahan di sekolah ini, selain karena lebih dekat, keduanya adalah kasihan kepada kepsek dan bapak Purwanto yang harus sendirian menghadapi  sekolah ini.

Ms Juli percaya, rezeki Allah sudah mengatur. Takdir ms bukan bersama kepala sekolah baru, tapi dengan pak Gunawan sebagai penggantinya. Kelak pilihan ini tidak akan disesali oleh ms Juli, karena justru ini menjadi jalan terbukanya pengembangan karir ms Juli ke arah yang lebih baik lagi.

Tahun 2007 ms Juli sempat pindah rumah mendekati sekolah ini, setelah kuliah S-1 pendidikan Matematika hampir selesai, dan kesempatan menjadi wakil kepala sekolah Kesiswaan. Sesuatu hal yang sangat berbarengan sekali keadaannya. Tapi inilah campur tangan Allah atas hidup ms Juli, yang selama ini mengalami hidup berat dan penuh tekanan dari berbagai pihak manapun.

Allah menjadikan sesuatu hal buruk untuk ms Juli, padahal bisa jadi itu yang dibutuhkan oleh ms Juli sebagai penguat untuk menghadapi hidup ke depan lebih baik lagi. Walau cara untuk menjadi kuat membuat ms Juli sakit, down, kelimpungan, dan berat menghadapinya. Tapi percayalah, dengan kepasrahan total kepada Allah hal itu jadi penguat dan doa bahwa ms Juli tidak sendiri.

Suatu hari direktur yayasan yang merupakan kakak ipar pak Purwanto memanggil Ms Juli, dan menyampaikan permintaan bapak untuk saya menjadi wakil kepala sekolah bagian kesiswaan. Kaget luar biasa, itu pasti. Alasan  mengapa saya yang diminta adalah, karena Ms Juli tegas dan dekat dengan anak kelas manapun. Guru favorit dan sebagainya. Walaah, panik! Jujur iyaa, karena pasti harus stay dan Ms nggak bisa pulang cepat untuk mencari tambahan di bimbel. Selama ini ms Juli berangkat jam 6.30 dari rumah dan pulang sekolah jam 3 bisa ngajar privat di manapun, bahkan pernah sampai jam 10 malam.

Ms Juli kerja di tiga bimbel besar, belum lagi mengajar privat kelompok anak kelas 4-6 yang diam-diam minta diberi tambahan pelajaran. Mereka sengaja minta ke pihak bimbel. Orangtua murid tahu kalau ketahuan pihak sekolah, Ms Juli akan ditekan. Padahal mereka bukan dari kelas yang Ms Juli pegang. Kebanyakan dari kelas 4-5-6 sementara Ms Juli mengajar kelas dua SD. Sempat lama Ms Juli harus berpikir. Minta waktu untuk istikhoroh sama Allah dan konsultasi dengan anak-anak di rumah.