Sungguh hal  tak mudah bagiku, meninggalkan rumah tinggal kami tempat  dua anak laki-lakiku lahir, setelah sekian lama menantikan mereka dalam kerinduan yang amat sangat.  Enam Tahun sudah rumah ini kami tempati, dengan segala suka dukanya.

Kuelus perutku  yang mulai membesar, empat bulan sudah jabang bayi ini bersemayam di rahimku. Bayi ke-empat yang kukandung ini (bayi pertamaku meninggal di kandungan sebelum sempat lahir) hadir setelah alm ibu mertuaku wafat meninggalkan kami. 

"Ah kasian kau nak, hadir saat ayahmu sedang gonjang-ganjing dengan ekonomi keluarga kita." batinku sedih.

Dia bukan laki-laki rapuh yang kukenal. Kegigihannya memperjuangkan hidup di tengah kemiskinan masa kecil dan remajanya, membuatnya berani bertarung di tengah belantara Bakauheni Lampung. Untuk bekerja demi membahagiakan ibunya yang sangat ia cintai. Bahkan dia membuang kesempatan beasiswa dari Patigat dan Siemens Jerman yang hanya memberinya beasiswa sekolah saja sedangkan ia butuh uang.

Dia juga laki-laki tangguh, ketika memperjuangkan keinginannya mempersuntingku, yang saat itu ada tiga pria juga yang juga menginginkanku. Pertama Haryoko tunanganku yang dijodohkan orang tuaku (tapi aku tak menginginkannya). Kedua Hermanus, laki-laki yang sempat kucintai karena kegagahannya, dan Asikin laki-laki ketiga  yang berhasil mencuri perhatianku karena tak gentar mendekatiku. 


Namun dari kesemuanya dialah yang kini jadi suamiku, paling pertama kukenal sejak kelas kelas enam SD, terus sabar dan dekat denganku. Padahal kutahu banyak perempuan yang mengejarnya, bahkan sempat  ada yang menyatakan ingin bunuh diri begitu tahu kami akan menikah.

Tak mudah dia memilikiku, begitu juga aku menjadi ratu dalam hatinya. Liku-liku perjuangannya, yang lucunya kami tak sadar apakah akan saling memiliki. Kami bertemu dalam suatu organisasi pramuka di Jakarta Timur. Dia selalu mengatakan bocah kampung dari Swadaya Jatinegara. Dan kami cepat menjadi akrab, karena sikapnya yang ingin selalu memimpin, dan diandalkan dalam organisasi. 

Setiap hendak kemping mewakili organisasi Pramuka PPFN tempat kami bernaung,  selalu dia yang maju memintakan ijin kepada orang tuaku.
Aku memang agak sulit untuk mendapat ijin-ijin. Orang tuaku tahu sejak kecil aku menderita Bronkhitis, di mana kalau sudah kecapean pasti kumat dan pingsan, sehingga selalu menjadi langganan rumah sakit.

Dan kami juga satu alumni di sebuah SMPN terkenal di kota kami , hanya begitu aku masuk SMPN itu, dia lulus dan melanjutkan sekolahnya di sebuah STM Negri terkenal pula . Lalu setelah kelas delapan hingga  lulus SMP aku berpisah dengannya tidak meneruskan pramuka di organisasi itu. Aku lebih suka menekuni  basket sebagai kegiatan tambahan dan bertemu Hermanus yang saat itu alumni SMA ku kalau tak boleh kubilang dropout ini kutahu belakangan, dia sangat menarik perhatianku karena kegagahannya.

Hingga suatu saat kelas sebelas SMAN aku bertemu teman karibku yang juga teman di Pramuka waktu itu.  Dede namanya, waktu itu tak sengaja menyampaikan padaku bahwa dia Reza titip salam. Wah berbunga-bunga hatiku karena rasanya hampir 4 tahun tak bertemu dengannya, aku bilang, 

“ Iya De, titip salam lagi ya."
Dasar memang sedang merekah remaja, berbunga-bunga terus saat mendapat perhatian dari lawan jenis. Lalu disitulah dimulai masa di mana hari-hariku mulai berwarna. Saat Reza datang, dari Lampung katanya, aku terpesona dengan sosok dewasanya,

“Ach dia banyak berubah, lebih berisi dan macho," walau bulu matanya yang lentik panjang menggodaku untuk mengatakan dia bencong karena lebih pantas mirip perempuan.

Tapi kewibawaannya segera merengut simpatiku, hanya sebatas teman yang lama tak bertemu. Terlebih masih ada tiga laki-laki yang masih sering menemuiku.

#ODOP
#EstrilookCommunity
#Day29