LELAKI TAK BERTUAN (16)



Dalam hening suasana rumahnya yang sepi, dan kesyahduan dhuhanya tak sadar Susan tertidur di sajadahnya.  Entah sampai kapan, tiba-tiba si bungsu sudah memeluknya dari belakang.

"Umi nggak apa-apa kan? Adek panggilin dari luar sampai masuk, karena lihat motor umi di luar. Umi sakit? "tanyanya dengan nada khawatir.
"Umi nggak ke sekolah, habis ada tamu? Kok ada gelas di meja sih um," berondong si cabi bungsu.

Ah ya Allah, si bungsu saja sudah SMP. Bagaimana kalau aku menikah lagi nanti? Pikiran ngawur Susan mulai bermain.

" Ya, dek. Tadi ada tamu teman Umi. Terus Umi sholat kemudian ngantuk deh tertidur di sajadah. Adek tumben pulang cepet?" tanya Susan.

"Iya umi, di sekolah ada rapat guru-guru makanya dipulangin cepet,"

"Ya sudah, tapi umi nggak masak dek. Seperti biasa . . . " Susan seakan memberi kode ke bungsunya.

"Tahu, adek mah makan pake telor ceplok aja ya Um. Nanti sore saja saat Ummi pulang baru masakin adek. Eh, Umi balik ga ke sekolah?" Bungsu tahu karena pagi tadi mereka berbarengan semua keluar dengan tujuan masing-masing.

"Rasanya badan Umi sakit semua deh, dek. Sebentar Umi kasih kabar ke sekolah dulu lewat WA, ya!"

Segera tangan Susan lincah mengetikkan pesan chat ke wakaseknya Fitri yang saat itu sedang on. Dikemukakan alasan tidak berangkatnya lagi. Sesungguhnya kemalasan dan pikiran tentang Amar belum tuntas juga pergi dari benaknya, tapi ditutupnya rapat perasaan itu dari siapapun termasuk bungsu cabinya. Tentang Faisal dan kesedihannya saja bisa tertutup rapat, mengapa tidak tentang Amar. Biarlah menjadi kenangan indah yang kini dimilikinya, di tengah kesedihan ujian keluarga yang menimpanya.

Usainya Susan segera menuju dapur, tak tega kalau bungsu hanya terus menerus masak telor ceplok kesayangannya. Baginya bungsu adalah anak prihatin yang paling mengerti dan sabar bersamanya dalam ujian hidup sejak kehamilannya, hingga sebesar ini usianya. Dibukanya kulkas, hanya ada beberapa tersisa lauk yang bisa diolahnya. Tak apalah, sebisa mungkin untuk dimasak, sebentar lagi sulung dan tengah akan pulang juga dari sekolah. Terlebih sulung, sedang ujian SMA, Alhamdulillah akhirnya selesai juga satu persatu jagoannya sekolah masing-masing.

Hal yang tak pernah dibayangkan olehnya dapat menuntaskan sekolah anak-anaknya. Sejak sulung 4 tahun, krisis moneter sudah sangat morat-marit keuangan keluarga. Seperti kucing mereka kerap berpindah dikejar debt colector. Dengan suami yang tidak lagi bekerja, bahkan utang piutangnya dimana-manapun begitu berantakan.

Hingga mereka terdampar dan hampir menjadi gembel di kota kelahiran papahnya  di Semarang,  kalau saja mbak Lia seorang teman yang sudah seperti kakaknya tidak memberikan pertolongan segera, begitu tahu mereka tinggal di hotel melati kelas teri dengan satu kamar ditempati lima orang keluarganya. Disewakan rumah petak hanya dengan 200 ribu rupiah setiap bulan. Walaupun setelah itu Faisal meninggalkannya begitu saja, tapi Susan tetap tegar dan berusaha sekuat tenaga bertahan dengan sisa keuangan yang diberikan alm papahnya.

Kini masa itu telah berlalu, sangat berterimakasih Susan pada ketiganya yang begitu kuat dan tegar membersamainya dan kembali ke Bekasi, kota terakhir kini bermukim. Sepulangnya 2003 lalu dari luar kota dibantu ayah angkatnya yang orang Kalimantan, Susan bisa kembali mencari penghidupan sebagai guru privat yang dulu pernah dilakoninya. Mulai dari Bimbel dan rumah ke rumah terbukalah peluang untuk mengajar hingga sebuah sekolah menerimanya menjadi guru IPA dan Matematika. 2005 lalu melanjutkan S-1 pendidikannya, dan 2007 menjadi Wakasek Kesiswaan.

Sungguh tak dinyana karirnya begitu melesat. 2008-2010 ini diangkat menjadi Kepala Sekolah atas kepercayaan yayasan yang melihat prestasinya yang luar biasa. Guru favorit selama dua tahun berturut-turut, membangun rohis keputrian di sekolahnya yang terkenal sekuler, serta dua eskul andalan menjadi juara di Kabupaten cukup sukses mengantar karir berikutnya. Padahal, sepulang sekolah privat di rumahnya juga begitu ramai.

Kepercayaan orangtua padanya begitu mengharukan, begitu dia mengundurkan diri dari 4 Bimbel besar sejak 2003, dan privat kelompok dari rumah ke rumah untuk kemudian mendirikan Bimbel pribadi di rumahnya. Empat puluh anak langsung mendaftar untuk dibimbingnya. Tak percaya tapi nyata adanya.

Pikiran Susan terus berkelana ke masa lalu hingga terdampar di rumah ini. Rumah yang sudah lima tahun belakangan ditempatinya sejak pulang dari Semarang

Posting Komentar

28 Komentar

  1. Masyaa Allah akhirnya tiba di blog mis julie^^

    BalasHapus
  2. ya ampuuun udah ke 16 aja nih hahahaha udah pasti keder kl ngga ikutin dari awal

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwk hayuuk mbak doakan bang ilham datang terus

      Hapus
  3. Udah part 16 aja Mbak Juli, tinggal dibukukan aja nih :)

    BalasHapus
  4. Agak bingung sih karna gak baca dari awal. Itu ceritanya Susan single parent?

    BalasHapus
  5. Ini udah ending belum, Miss? berarti hepi ending ya? hehe saya belum baca dari awal sih jadi agak gak nyambung

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwk ditunggu yaa novelnya inshaallah

      Hapus
  6. Wah udah ke 16 lagi, mesti baca dari awal nih biar paham alur ceritanya

    BalasHapus
  7. Kayaknya harus ngulang dari awal biar lebih paham. Saya sempat lost beberapa bagian. Oh ya, saran saja, ya. Sebagai pembaca, saya kurang nyaman dengan beberapa susunan kalimat.
    Misalnya seperti ini,
    Segera tangan Susan lincah mengetikkan pesan chat ke wakaseknya Fitri yang saat itu sedang on. Pesan dan chat menurut saya salah satu saja. Mungkin bisa diganti chat WA, atau pesan WA.
    Kemudian "Segera tangan Susan lincah", kayaknya lebih nyaman, "Dengan lincah, tangan Susan segera mengetik pesan WA". Masukan saja sih. Mohon maaf kalau kurang berkenan. Selebihnya effortnya bikin cerbungnya luar biasa. Sudah konsisten juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Damar terimakasih banyak masukkannya

      Hapus
  8. Ini sambungannya yang mana ya, aku missed kayaknya. Perasaan kmrn udah the end deh ceritanya. Eh apa aku salah ya hehehe

    BalasHapus
  9. Waahh jadi penasaran dengan ending-nya nih Mis Juli.
    Lanjutkan!

    BalasHapus
  10. Tambah seru ya cerita mis Juli. Ditunggu kelanjutannya. Pinisirin nih aq...hihi

    BalasHapus
  11. Hmmm...aku kok lupa ya terakhir smp mana? Part 14 deh kayaknya terakhir baca. Rupanya ada flashbacknya nih...

    BalasHapus
  12. Saya sempat baca kisah Susan ini tapi nggak runtut. Tapi cerita flashbackbya sedih banget ya mbak, kayak nyata. Tapi skrng Susan udah kepala sekolah aja. Keren!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa kan dibuat tokoh utama mbaak he he btw terimakasih

      Hapus
  13. bu susan yang perjalanan hidupnya MasyaAllah..tetap semangat Buk, bahagia terus bersama anak-anakmu dan semoga segera terlepas dari kegalauan..aamiin

    BalasHapus
  14. Cerita tentang Lelaki tak Bertuan ini ternyata panjang juga ya, semakin ke sini semakin seru aja xeritanya. Apalagi di eps. Kali ini dipaparkan masala Lalu Susan yang ternyata sempat mengalami hidup susah sebelum akhirnya diangkat jadi kepala sekolah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Siska terimakasih sudah mengikuti

      Hapus