Membayangkan ketupat itu bikin aku berhalu menerawang jauh. Apa cuma aku saja? Iya nggak siiih? Ketupat bikin khilaf? Coba deh . . .

Bukan ketupat yang lain, ya! Ketupat yang satu ini, cuma ada saat hari raya IdulFitri. Apalagi ketupat yang dimasak dengan niat dan sentuhan cinta seperti mamah dulu kalau masak. Masaknya spesial dan cuma bisa dibikin di akhir Ramadhan. Rasanya pulen dan bikin nagih.
 
Apapun penyertanya sebagai pelengkap, pokoknya nggak ada duanya. Entahlah, ada apa di tangan halus mamah? Saat-saat seperti itu bikin rindu selalu hadir dan bikin aku terus berhalu memikirkan wajah mamah. Tapi, hal spesial yang selalu kuingat adalah usai memasaknya.

Mamah, selalu memintaku untuk mengantar paket hantaran ini yang berisi ketupat dan opor ayamnya ke mereka orang-orang yang dianggap penting dalam hidup mamah. Pilih kasih? Nggak juga, hanya mamah selalu mengutamakan tetangga sebelah, setelah itu baru orang- orang terjauh. Sejauh apapun ya harus kuantar.

Mengapa selalu aku? Karena kata mamah aku anak yang paling murah senyum, ringan tangan, dan di suruh nggak pernah membantah. Padahal kami 5 bersaudara, dan aku anak kedua. Mamah juga selalu memintaku untuk rapih dan sopan saat mengantar hantaran. Ketika pilihan itu jatuh padaku apa yang ada di benakku?

Jelasnya pasti suka, secara tidak langsung mamah sudah mengajariku akan kepedulian, tenggang rasa, berdiplomasi yang baik, dan banyak hal lagi. Itu kenapa aku merasakan manfaatnya begitu banyak sekali hingga umurku sejauh ini. Sayang, dunia sudah bergeser seiring perkembangan teknologi.

Kesibukan dan budaya ramah tamah itu, tak kurasakan lagi di zaman ini. Banyak hal yang sudah bermain mewarnai situasi bertetangga, juga silaturahmi dalam hubungan sosialku saat ini. Walaupun, aku berusaha tidak mau terpengaruh akan hal itu, namun tak kupungkiri. Sejak terakhir tinggal di perkampungan dan pindah kembali ke perumahan, budaya yang mamah ajarkan tidak lagi kumiliki. Ada apa? Entahlah, banyak hal.

Pastinya, kenangan tentang ketupat begitu jelas di pikiran dan mataku. Kini yang kuutamakan hanyalah keluarga kecil yang kubangun. Sebisa dan serepot mungkin, mengusahakan selalu ada ketupat dalam keluarga ini. Pengikat hati dan lidah menyatukan komunikasi keluarga kecilku ini. Kalaupun harus mudik, di tempat kami singgah selalu ada ketupat mewarnai. Sebagai tanda, ritual wajib yang tak boleh ditinggalkan di momen IdulFitri.

Apalagi kalau sudah makan, bikin khilaf lupa segalanya. Tambahan penyertanya sebagai pelengkap itu memang harus diwaspadai, itu kenapa hanya terjadi setahun sekali. Nggak kebayangkan? Kita akan makan ketupat beserta teman-temannya setiap hari?
Mengapa begitu, ketupat satu potong kadang bikin nagih, apalagi kalau pulen dan gurih aseek. Rendang daging, opor ayam kampung, sambel goreng kentang, dan sayur kerecek labu kesukaan tumpah ruah ngrumpi dalam satu piring yang cukup besar porsinya. Jadi, kalau bikin khilaf ya maafkan. Tahu-tahu timbangan dan kolesterol bergerak pasti jangan salahkan. Enak siih!

Makanya, buat muslimah dan emak-emak hebat di keluarga, jangan lupa antisipasinya,yaa. Bahan dasar santan dan cabai itu memang bikin nagih siapapun yang melahapnya. Jadi? Ketupat bikin khilaf? Bukan hoaks, yaa. So, siapkan juga payung sebelum hujan. Mencegah lebih baik dari pada mengobati bukan?

Tahu dong maksud ms Juli apa? He he pokonya endes laah. Apalagi kalau ada pete bermain curang, uiih bisa berebut itu sambal goreng kerecek sebelum melambaikan tangan tanda kehabisan. Mau? . . .

#Dayfifteen
#RWC2019
#OneDayOnePost