JANGAN ADA RINDU DAN DENDAM di ANTARA REUNI



Bicara reuni adalah membicarakannya silaturahmi yang tersambung dan menyambungkan diri, setuju? Kalau nggak setuju angkat kaki, yuuk! Hee, just kidding, friends. Sejak dulu dan sekarang, dimana ada reuni yang terlewat? Apapun itu bentuknya.

Kalau ditanya, berapa jumlah grup atau kumpulan reuni yang kita punya? Berapa lapis? Ratusan . . .he he itu candaan dari iklan wafer menengahi pertanyaan berapa namanya, ya! Coba ngacung! Berapa jumlah reuni? Sebentar, dalam hati sedang menghitung, SD-SMP-SMA-Kampus- Perusahaan, atau alumni apalah-apalah . . .

Intinya, reuni adalah bertemunya kembali, setelah sekian lama terpisah atau tanpa komunikasi, betul? Baik online atau offline kini marak terjadi. Dengan adanya era globalisasi, kemajuan teknologi komunikasi begitu menunjang pertemuan ini. Kalau no handphone susah didapat, paling tidak untuk nama bisa dilacak melalui media sosial terkenal seperti Facebook.

Sosial media satu ini juga salah satu yang sudah berjasa menyatukan komunikasi yang hilang, sejak krisis moneter dan internet menyapa Indonesia. Padahal sebelumnya, komputer sangat lekat denganku, tapi hanya sebatas alat bantu menulis dan bermain game saja buatku. Namun, begitu krisis moneter melanda, seiring juga handphone dan internet mulai menyapa hadir dalam kehidupan.

Sekian lama dalam gonjang-ganjing kegalauan hidup dan kehidupan, mulai hadir kerinduan bersilaturahmi dalam bentuk berbeda kala itu. Ketika kesempatan menjadi kepala sekolah sebuah sekolah dasar swasta yang cukup besar di masanya saat itu. Akhirnya aku mulai menyapa kembali komputer sebagai salah satu kompetensi yang harus dimiliki seorang kepsek. Mampu mengirim email, membuat surat untuk kebijakan maupun hubungan dengan yayasan dan kolega, adalah alasan terkuat mulai kencan lagi dengan PC.

Di situlah aku mulai tergoda untuk berkenalan dengan BLOG tahun 2008 sebagai sarana untuk menuangkan ide-ide tulisan atau jejak sejarah tertinggal dalam diari elektronik. Diari, tempat berkencanku yang spesial untuk menumpahkan segala rasa dan menuliskan jiwa seni, segala keinginan yang ingin tersampaikan. Namun, begitu minder melanda, akibat kecerobohan diari yang tergeletak sembarangan, sejak itu memutuskan hubungan sepihak dengannya. Malu rasanya, jika ketahuan isi tulisan tentang baper dan galaunya perasaan ini.

Walaupun, sempat pede tulisanku terkuat di sebuah koran besar di zamannya saat itu, tapi tak cukup besar nyaliku mempertahankan budaya menulis yang berangkat dari bingkai curhat seorang perempuan. Ahayy. Kini, setelah adanya blog, segala cerita yang tertinggal dan terlewat kembali menjadi rutinitas.

Tak terasa kini sudah 11 tahun berlalu. Semakin menguat dan menguatkan tulisan ini. Ditambah, keinginan untuk terus menjadi pembelajar seumur hidup dan mengosongkan gelas keilmuan setelah diaplikasi perlahan-lahan. Banyak sudah web, situs, atau tempat yang menjadi ajang pelampiasan menulisku. Therapi yang sangat bermanfaat juga serta menunjukkan eksistensi diri ke arah positif.

Melalui tulisan jugalah, akhirnya aku dipertemukan dengan teman masa lalu yang kini menjadi kawan hidup. Penggemar yang sering menikmati dan mengomentari tulisan-tulisanku di media sosial tertentu. Reuni kehidupan dilanjutkan dalam jenjang biduk rumah tangga. Asyiiik, jadi menulis juga bisa menjadi reuni yang positif, yaa.

Sahabat, punya kenangan apa tentang REUNI? Hal penting adalah, pada momen reuni sesungguhnya, jangan ada rindu dan dendam menyertai. Mengapa? Rindu yang salah akan merusak biduk rumah tangga halal yang kita bangun (kecuali kalian berdua masing-masing sendiri). Syaithon selalu menggoda untuk kembali CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali).
Sedangkan Dendam hanya akan menghabiskan silaturahmi dan menutup pintu rezeki kita. Sesuatu yang merusak hanya karena masih ada perseteruan yang belum usai antara kita dalam hubungan dengan manusia. 

Terbaik yang dilakukan adalah, berniat untuk menjalin silaturahmi, sebagai bagian dari memperpanjang umur, menambah persaudaraan, menambah rezeki, dan banyak hal lagi.
Jadi, Adakah sesuatu yang ingin dibagikan? . . .japri ya, kalau malu mengungkapkan dalam kolom komentarku.

#Daytwentysix
#RWC2019
#OneDayOnePost

Posting Komentar

18 Komentar

  1. Saya belum pernah reunian. Eh, pernah sih tapi hanya dengan 5 orang teman SMA (ini reunian jugakah?). Maklum, sejak menikah saya udah tinggal jauh dari kampung halaman jadi susah buat ketemuan dengan teman-teman lama.

    BalasHapus
    Balasan
    1. yang penting say hello di grup saja mbak

      Hapus
  2. Miss, betul sekali. Rindu dan dendam, 2 hal yang bertolakbelakang tapi memiliki dampak yang besar. Udah lama nggak ikut reuni aku,mah. Keseringan pindah soalnya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. keluarga nomor satu mbak semoga kita selalu dijaga ya

      Hapus
  3. Salah satu hal menyenangkan saat reuni adalah mengingat masa-masa lucu di jaman sekolah dulu. Satu lagi, bisa bertemu teman-teman lama yang eh ternyata mendukung network kita dalam mengaktualisasikan diri. Urusan yan menyerempet ke perasaan, sebisa mungkin dihindari. Termasuk mengomentari chat yang 'mengarah' di WA. Aku memilih menanggapi secara datar atau sama sekali nggak berkomentar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah setuju banget semua tergantung kita ya

      Hapus
  4. Wah, saya belum pernah reuni bunda jadi belum ada yang bisa diceritakan. Tapi tepat sekali kata bunda karena saya pernah dengar tuh gara-gara reuni ada yang clbk meski hanya beberapa sih ya

    BalasHapus
  5. Rasanya aku juga belum pernah ikut reunian sekolah hahaha. Soalnya kalau mudik waktunya pasti nggak barengan sama temen2 yang lain. Sekarang giliran udah di kampung, sayanya males ketemuan sama masa lalu #halaah :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwk yang penting utamanya silaturahmi mbak intinya pendukung network kita

      Hapus
  6. Saya engga pernah reuni teman SD. Soalnya SD saya 4. Berkat ikut ayah dinasnya pindah². SMP pernah, udahnya malas. Krn obrolannya sudah tidak nyambung. Boring. SMA kadang². Reuni teman kuliah se kampus dan se prodi saja sih. Tapi diingat² terakhir, 2 thn yl. Jadi yaa...jarang juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sip semua kita yang lebih tahu mengaturnya ya mbak

      Hapus
  7. Aq sering ikut reuni, untungnya nggak pernah punya mantan di sekolah, jadi nggak perlu gentar reunian... he he he

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah semoga selalu terjaga ya mbak

      Hapus
  8. Alhamdulillah sy pernah ikut reuni dr SD hingga kuliah. Jadi tmbh akrab ketimbng dl saat sklh atau kuliah. Pertemann yg berkesan stlh lm tk jumpa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya mbak diambil manfaatnya saja negatifnya sih dibuang saja ya

      Hapus
  9. Alhamdulillah sy pernah ikut reuni dr SD hingga kuliah. Jadi tmbh akrab ketimbng dl saat sklh atau kuliah. Pertemann yg berkesan stlh lm tk jumpa

    BalasHapus