Berkah Menjadi Pendidik itu Barokah



Kulkas ini menginjak usia tahun ke 10, saat kuterima dari orangtua yang ikhlas memberinya padaku di tahun 2007 lalu. Saat pertama menginjak perumahan SKU Kompas Tambun untuk mengubah hidup lebih baik lagi. Masih bagus dan mesinnya masih bagus sekali.

Padahal bersama orangtua tersebut sudah lebih dari 5 tahun katanya. Karena beliau mau pindah, jadi begitu teringat kepada guru anak-anaknya kulkas itu diberikannya padaku. Mbak Elfa dan mbak Naya (duh kangennya sama dua gadis ini) yang mulai start belajar matematika sampai mereka berdua bisa, semua dimulai  saat pertama belajar denganku. Bangga? Banget . . .bisa bermanfaat untuk anak didikku. 

Walaupun kini mereka sudah besar dan punya kesibukan, aku masih mengingat mereka dengan baik. Karena kebaikan hati kedua orangtuanya selalu ada di depan mataku. Ya di kulkas ini, mashaallah.  Aku selalu berprinsip, mengajar itu tulus, profesional dan maksimal. Dengan kejujuran hati, inshaallah akan terpatri di hati muridku. 

Sudah tak terhitung murid-murid yang kudidik sejak 1990, sampai ada beberapa anak angkat ku. Karena mereka merasa termotivasi saat belajar bersamaku. Padahal, aku juga belajar loh dari murid-murid ku. Itulah berkah menjadi pendidik. Segala Rizki menjadi barokah. 

Barang-barang dirumah seperti setrika, mesin cuci, bahkan kompor gas ada yang pemberian orangtua. Setiap idul Fitri bingkisan dari orangtua nggak pernah absen. Sampai-sampai aku nggak perlu bikin kue. Bahkan bisa dibagi-bagi ke adik-adikku atau tetangga. Subhanallah. Bukan bermaksud pamer, namun dengan keihklasan dan profesional, rejeki Allah sungguh barokah.


Dompet yang ada di tanganku, itu adalah pemberian alm mas Yudha muridku yang meninggal karena gangguan ginjal saat kelas 8 SMP.  Orangtuanya sangat terkesan, mas Yudha yang di judge guru-gurunya bodoh, ternyata bisa bukan idiot seperti sangkaan siapapun. Hampir dua tahun mulai kelas 4 SD sampai lulus belajar bersamaku, sampai dia bisa diterima di SMP Negri dengan baik, orangtuanya sangat terharu. 

Sedihnya mas Yudha adalah anak satu-satunya. Terbayang kan kesedihan orangtuanya yang kehilangan. Termehek-mehek aku kalau ingat terus, pasti ingatlah wong dompet terus kupakai. Melekat dalam otakku. Percaya atau tidak, dompet itu tidak pernah kosong, sebentar saja selalu ada isinya. Mashaallah kadang suka merinding kalau ingat

Gaji guru di Indonesia itu memang belum ada ketetapan UMR baku, walau alhamdulillah segala bantuan pemerintah kini untuk memperhatikan kesejahteraan guru, jauh dari sebelumnya. Tapi aku percaya, ada gaji lain yang bila kita ikhlas akan berkah. maksudnya, enaknya jadi guru dapat gaji dua, gaji manusia dan gaji Allah. pahalanya dan rejeki barokah tak terduga akan ketulusan seorang guru, apalagi pendidik. Aku sudah sangat merasakan di hampir 30 tahun pengabdianku di dunia pendidikan.

Guru itu digaji untuk mendidik, mengajar dan membuat administrasi guru seperti RPP dan penilaian. Jadi enggak boleh minta bayaran lebih sama orantua. Kalau dikasih dan mereka ikhlas terima, tapi jangan diminta. 

Ish malu, pengemis gaya elit atau premanisme berdasi namanya. jangan seperti oknum pejabat pendidik jaman old  and now, selalu minta jatah kepada guru-guru. Padahal nasib guru bukan mereka yang menentukan. Uangnya dari pemerintah, mereka hanya menenda tangani saja, bahwa mereka bekerja mengawasi dan mendata jumlah guru di tiap sekolah. Itupun tiap sekolah pasti memberi amplop. Tapi masih kurang saja, minta jatah tambahan, bayangkan berapa sekolah dalam pengawasan oknum pejabat itu?

Seperti outsorching saja, beliau kan digaji untuk melayani guru-guru baik swasta atau negri. Tapi mengapa selalu mencari celah uang-uang receh, mengutip dari hak guru dari pemerintah. Mana enak nerima jatah dari guru, tapi guru ngedumel dalam hati? makannya juga nggak enak. Jadi penyakit iya malahan.

Aku tak pernah menyesal tidak tuntas menjadi PNS, karena banyak faktor, salah satunya ridho keluarga tak kudapat. Namun menjadi pendidik swasta ikhlas, profesional, hasilnya ratusan lipat dari saat menjadi PNS tahun pertamaku. Bergaji 108 ribu dengan pangkat 2C. Alhamdulillah tidak kusesali sama sekali. Bahagia menjadi pendidik, bukan guru loh.

Apa bedanya jadi guru atau pendidik? Jadi guru semua bisa tidak perlu sekolah keguruan, tapi jadi pendidik, sudah hasil sekolah keguruan juga mental mendidik yang benar (Ilmu Didaktik). Siap mendidik dimanapun kapanpun. Bahkan keluarga pun memahami bahwa aku adalah pendidik. Sering mereka harus memahami ketika ada siswa-orangtua-mahasiswa curhat, diskusi dan bertanya padaku. Kadang 24 jam lewat hp atau sosmed. 

Terganggu? Tidak bahkan senang. Berarti trust atau kepercayaan mereka padaku sangat baik. Alhamdulillah keluarga pun tidak merasa kuzolimi. Karena bagiku keluarga adalah nomer satu utamaku. "Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka" artinya keluarga dulu baru orang lain. 

Iya dong, aku sukses mendidik anakku keluargaku dulu baru yang lain. Alhamdulillah malah jadi panutan. Karena mereka melihat kesuksesanku mendidik keluarga. Itu modal dan point' trust mereka. Keuntungan besar . . .siswa-orangtua dan mahasiswa yang mencariku. Bukan aku. Murid privat ku juga begitu. Seperti mbak Elfa dan mbak Naya ini. Muridku rata-rata isi ulang. 

Artinya, kalau nggak adiknya, kakak-sepupu-tetangga atau siapapun. Mereka yang mencariku, aku nggak mencari, nggak pake brosur atau promosi. Bahkan kadang orangtua malah yang merekomendasikan subhanallah, tanpa imbalan apapun. Berkah menjadi pendidik itu berkah. Kok? Iya, karena aku tidak hanya mengajar, tapi juga memotivasi mereka. Bahkan alumni yang sudah lulus, selalu bilang, kangen motivasi ms Juli. Cetar membahana dalam ingatanku, mashaallah. 

Itu karena Allah nak, lewat perantara mulutku. Allah yang sudah memberiku ilmu dan cara menasehati untuk mereka lebih baik. Bahkan ketiga jagoan ku, kadang kulibatkan dalam hubungan ini. Kalau aku terlambat mengajar, aku selalu bilang, bang-adek temenin ya . . .jangan dimusuhi ditinggal. Bahkan mereka nyaman bermain bersama anak-anakku dulu waktu kecil. 

Apalagi mereka muridku melihat bagaimana aku mendidik ketiganya untuk mandiri. Kadang kusuruh beli gas, Aqua atau menyapu. Bahkan bila aku kehabisan pembalut wanita mereka mau tanpa menolak. Itu satu point' juga buatku untuk menyampaikan. Kalau bukan mereka siapa lagi, mis Juli kan nggak punya pembantu dan anak perempuan. Bahkan tak jarang, saat anak-anak masak mereka ikut makan bareng ya Allah. Bahagianya. 

Itulah yang kukatakan. Aku adalah pendidik, dan aku bangga dengan profesi ini setelah hampir 30 tahun kulakoni. Ada tanggung jawab moral dunia akhirat hasil didikan pada Allah, bukan karena manusia. Berkahnya sungguh luar biasa. Semoga menginspirasi. 

#teringatkenanganlewatkulkasdompet
#griyakompasenamdesember

Posting Komentar

27 Komentar

  1. Siapa bilang guru itu pahlawan tanpa tanda jasa. Pada hakikatnya, guru adalah pahlawan dengan tanda jasa tak terbilang nilainya. Dan tanda jasa terbesar adalah tanda jasa dari Allah swt.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih bunda Alhamdulillah benar adanya yaa

      Hapus
  2. Subhanllah... Semoga selalu berkah dan diberi kesabaran ya bu. Amiin. Alhamdulillah sy juga gak tega mau resign dari sekolah... Gak tega ninggalin anak2

    BalasHapus
  3. tujuan mengajar yang ikhlas, insya allah membawa berkah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah iya mbak Dina subhanallah aamiin

      Hapus
  4. Ketika bekerja alasannya karena Tuhan, maka semua pekerjaan adalah wujud kecintaan kita pada-Nya. Semoga mbk selalu sehat, dilancarkan rejekinya, dapat menjadi berkat untuk sesama.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin inshaallah mbak Seva terimakasih

      Hapus
  5. Jadi teringat para guru saat saya masih sekolah yang dulu sering disepelekan padahal mereka selalu memberikan yang terbaik untuk murid2nya agar sukses dan jadi orng berguna.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah terimakasih mbak feli, dikenang murid itu adalah sesuatu yang membahagiakan

      Hapus
  6. Bangga ya jd pendidik, sdh mencerdaskan anak bangsa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bangga banget bunda, bagian dari sejarah siswa

      Hapus
  7. Saya mengajar baru lima tahun, banyak sekali suka dukanya apalagi Misss Juli yang sudah 30 tahun luar biasa miss, Mudah2an selalu diberikan kesehatan ya miss untuk terus melanjutkan mencerdaskan anak bangsa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin mbak Yuliyani aamiin inshaallah teruslah dengan ketulusan

      Hapus
  8. Miss Juli ini pastinya adalah seorang pendidik yang dirindukan dan dicintai. Baarakallah :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mashaallah begitukah mbak, bukan itu tujuan utama, yang penting bisa bermanfaat untuk siswa itu saja

      Hapus
  9. Barakallahu fiik Miss Juli 😚

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jazakillah mbak Santi Rosmala aamiin yra

      Hapus
  10. Miss Juli..Guru yang dicintai murid-muridnya pasti. Barakallah.
    Terima kasih ceritanya. Jadi ingat Bapak saya dan kakak_kakak saya yang juga guru semua...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama mbak Dian Restu, akhirnya adik-adik saya juga mengikuti jejak saya sebagai guru

      Hapus
  11. Profesi guru itu, bayarannya dunia akhirat. Semua orang sukses berawal dari guru. Guru adalah profesi yang berkah. Jadi wajar aja,meskipun gaji dari pemerintah sangat minim, tapi rejeki datang dari arah lainnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju mbak Nurul Fitri Alhamdulillah berkah barokah

      Hapus
  12. Barakallah Mis Juli, memang profesi guru itu sangat mulia bukan hanya mengajar tapi juga mendidik murid dengan baik.Tanpa harap balas jasa, berkah dari ketulusan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar mbak Ameriny saya sangat mencintai profesi ini

      Hapus
  13. Barakallah Mis Juli, memang profesi guru itu sangat mulia bukan hanya mengajar tapi juga mendidik murid dengan baik.Tanpa harap balas jasa, berkah dari ketulusan

    BalasHapus
  14. alhamdulillah
    Saya selalu kagum dengan sosok guru yang benar-benar guru dan pendidik.
    Selamat mak juli, pilihannya sungguh tepat dan mulia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin bener Mak Evy saya merasa pilihan ini pilihan yang tepat

      Hapus