Suara, Dengarlah . . .



Sumber: Kata islami TENTANG CINTA_03

Suara dengarkanlah aku, apa kabarnya?  Pujaan hatiku. Aku, di sini menunggu masih berharap . . .Berharap apa?   Entahlah. Tak ingin aku berharap lagi.  Demikian kata hatiku mengingatkan diriku sendiri. Rasa lelah ini semakin membuncah dalam jeritan hati yang enggan ribut. 

Dia suamiku, tapi aku tak ingin lagi merengek padanya. Untuk hal-hal yang katanya hanya kebaperanku saja. Baper? Jika aku berharap dia mengerti perasaan hatiku? Salah sebagai istri aku memintanya untuk peka, bijak dan adil terhadap istrinya. Aku tidak menyalahkan keadaannya, dan tidak menyesali kebohongannya. Sadar sepenuhnya, ceritaku bersamanya takkan mungkin tanpa skenario-Nya. Kenyataannya, ijab kobul itu sudah terucap di hadapan Allah.

Kehendak-Nyalah yang membuat aku dipersatukan bersamanya dalam rumah tangga, sebagai istri kedua. Sulit awalnya menerima dan ingin berontak. Tetapi, apa dayaku? Sia-sia aku meminta pisah darinya. Berkali-kali keinginanku agar dia melepasku baik-baik tak pernah digubrisnya. Mencintaiku dan alasan ingin mempertahankan rumahtangga selalu menjadi tamengnya. Mencoba berdamai dengan keadaan dan hatiku, adalah caramu memintaku menjalani dan belajar ikhlas memaafkanmu.

Yang terbaik dan menghindari keributan hanyalah, menerima dan belajar ikhlas. Sebagai perempuan Jawa dan muslimah, hanya ini yang bisa kulakukan. Bukan poligami yang kuhindari, tapi caranya yang tidak jujur untuk menikahiku itu yang masih berat kuterima. Mungkin perempuan di mana-mana sama, terkadang suka dengan kebohongan. Untuk bisa ditaklukkan.

Begitu tahu, tentunya kontroversial yang terjadi. Dan aku tidak mau itu, bersyukur dia mau menikahiku, bukan mempermainkanku. Namun, kini ada rasa tak ikhlas jika harus berbagi. Apalagi, pulang ke rumah bisa dihitung dengan jari selama sebulan. Manisnya pernikahan tak puas rasanya, jika dia masih takut untuk terbuka memproklamirkan aku sebagai istrinya, itu yang tidak kuterima. 

Ujungnya adalah bantal sebagai tempat  pelampiasan air mata yang selalu basah saat merindukannya. Walau umurku tak lagi muda, rasanya berbeda kini memilikinya dan membayangkan di sana juga ada hati perempuan lain yang bersamanya setiap saat. Wahai lelakiku, apakah engkau merasakan jeritan hati ini? Suara, . .sampaikanlah kegundahanku malam ini. Aku ingin dibahagiakan dalam arti sesungguhnya, bukan hanya ucapan.

Diambil dari inspirasi kisah sahabat. Semoga  menginspirasi.
#Griya, 21 Oktober 2017

Posting Komentar

3 Komentar

  1. Sepertinya membaca Surga Yang Tak Dirindukan dalam versi yang lain :)

    BalasHapus
  2. Hiks iya ya mbak mashaallah

    BalasHapus
  3. Saya kira pengalaman pribadi mbak, maaf... Sampai bingung mau komen apa. Namun jika harus jujur, hati wanita mana yang bisa benar2 rela berbagi...?

    BalasHapus