kompasiana
Korupsi sudah menjadi kanker yang menggurita, sampai-sampai orang di negri ini tidak dapat bergerak dan bahkan cenderung menikmati. Bahkan dengan adanya KPK sekalipun bukan makin berkurang cenderung bertambah? Setuju apa setuju? Untuk apa KPK ada jika keberadaannya bukan membuat jera dan shock therapy, tapi malah makin terbungkus rapih.

Setuju ya, kalau saya katakan sangat menikmati? Bahkan menjalaninya dengan kesadaran hati. Mengapa? Tuh buktinya, biar CCTV tambah banyak, tetap saja mafia bertebaran. Tempatnya nggak di ruangan tapi pindah via WA atau tempat hangout. Dibungkus karaokean dan makan-makan. Membuat SIM memang kini diperketat dan pembayaran melalui bank, tapi tetap saja ada yang menawarkan sekian-sekian untuk mempercepat. Memang yang jalur resmi test betul-betul, Cuma ya itu membuat waktu harus berkali-kali. Ya nggak apa-apa sih yang penting jelas prosedurnya.
Di Lapas tadinya untuk masuk besuk, harus mengeluarkan uang tip tiap pintu yang besarannya berbeda, tergantung blok atau jenis hukumannya. Alhamdulillah per 1 November infonya sudah tidak boleh ada lagi. Di dunia pendidikan masih banyak bertebaran oknum-oknum yang terus mencari celah, dengan cara lain. Terutama di daerah. Padahal pusat sudah sedemikian kuat dan ketat. Ngaruh nggak sih setelah Klaten? Nggak juga tuh! Cuma gulungan salju yang semakin membesar.

Saya hanya ingin tahu berani nggak sih KPK menjangkau daerah-daerah lain? Berani nggak sih KPK pakai power nya? Untuk memberangus sampai ke akar-akarnya? Sepertinya kok saya apatis dan pesimis ya? Korelasi nggak sih peraturan pusat dengan pembantu-pembantunya di daerah untuk tersosialisasi?

Dari pengalaman, Lucunya negri ini, gampang banget kok untuk suskses ala negri Republik Mimpi ini yaitu:
  1. Ngerti bahasa pergaulan, kalau bahasa yang di pake bahasa Tarsan, ya harus pake bahasa itu. Di situ senangnya pake baju kuning ya pake baju kuning biar dilirik penguasa. Dan kecipratan sukses
  2. Kuat amplop,  kalau amplopnya kuat inshaallah apapun lancar jaya. Mulus semulus jalan menuju neraka. Tersistem pula, kalau tidak ikut ya ditindas atau dibotakin data orang itu, atau siapapun yang coba-coba lapor. Pokoknya dimatikan lah secara rapih, pahamkan? Gampang kan jadi rakyat jelata di negri Republik mimpi, stock aja amplop yang banyak.
  3. Kumpulnya sama penguasa bukan pengusaha. ABS ajalah, Yes man ajalah, jangan suka protes jangan suka ngelawan, kalau karir nggak mau terancam.

Jadi untuk apa ada KPK? Negri ini  nggak butuh KPK kan? Kalau pusat tidak punya power kuat terhadapnya, bahkan didukung oleh seluruh stakeholder negri ini. Jadi mari kita terus bermimpi di negri ini.