5 Tahun Penuh Penantian

sumber gambar: jeparaku.com
Menikah di usia muda bukanlah pilihan, namun harus dijalani. Mengapa? Setelah mendapat hidayah untuk berhijab itu, ada rasa takut dan menyesal. Karena banyak hal yang sekarang baru saya ketahui, seperti ikhtilat, menutup aurat dan lainnya. Ibarat oase dipadang tandus, seperti itulah menggambarkan keadaan saya, saat mendapat hidayah.

Lahir dari keluarga dengan agama kejawen, suatu aliran keagamaan di Jawa Tengah. Namun bersyukur, mama-papa tidak pernah melarang saya sejak kecil untuk ikut mengaji. Baik secara bersama-sama dalam suatu kelas, maupun kelas privat membaca al-quran. Rasanya seneeng banget, bisa membaca al quran walau mungkin saat itu masih salah-salah. Bahkan dengan pedenya saya membaca dengan kencang. Kalau ingat saat itu, saya suka senyum sendiri. Habis malu sih.

Begitu lulus SMA, saya diterima di sebuah perguruan tinggi negri melalui jalur PMDK,. Beasiswa murni, bahkan diberi uang saku setiap 2 bulannya. Dimana menempatkan agama sebagai mata kuliah wajib yang harus diambil di semester pertama.  Dan, di situlah banyak keajaian terjadi. Saya sering gemetar setiap ada yang memakai hijab, rasanya hampir setiap hari ada yang baru memakai hijab. Duh, bikin baper, tapi takuuut. Papa keras sekali dan melarang untuk terburu-buru memakai hijab.

Inikah hukum karma? Menjelang ujian SMA, pernah terucap kata-kata tidak pantas keluar dari mulut saya. Saat itu di tahun 90 an masih langka yang menggunakan hijab. Nah disekolah saya, ada 2 anak perempuan yang suka bongkar pasang hijab. Karena kebetulan, wakasek kurikulum dan kepseknya non muslim, jadilah mereka ditekan. Itu kenapa mereka harus bongkar pasang.

Apa hubungannya dengan saya? Ada-lah, saya saat itu karena ketidak pahaman terhadap agama, dengan mudah mengatakan ”Ih najis! Gue nggak akan pake jilbab sampe kapanpun, nyusahin orangtua saja.” Kata saya saat itu. Mashaallah kalau saya ingat, allah maha pembolak balik hati manusia, Enam bulan berikutnya hati saya dibuat bergetar, setiap melihat muslimah baru yang menggunakan hijab. Wajahnya yang putih bersih, memancarkan cahaya yang saya suka.

Saat itu saya diam-diam mulai berpakaian, lengan panjang, walau masih bercelana jeans. Hem lengan panjang papa saya minta 2 buah dengan alas an untuk keperluan kuliah. Saya juga mulai menyicil untuk membeli jilbab putih dan hitam. Biar praktis, sampai orangtua saya ikhlas mengijinkan saya berhijab.
Dan saat libur semester, saya memberanian diri pulang memakai hijab untuk pertama kali pulang kerumah. Reaksinya? Bisa ditebak, papa marah besar. Mama sih nggak marah, tapi juga tidak lantas setuju. Papa merasa sayang dengan rambut saya yang panjang. Di rumah, yang rambutnya panjang dan bagus hanya saya, dan papa senang sekali ikut mengurus rambut saya. Pernah sampai diratus loh, bayangin bapak-bapak masak ikut ngeratus rambut perempuan. Itulah kenyataan yang saya alami.

Jadi, wajarkan papa marah? Kaget? Dengan perubahan sikap yang beliau anggap aneh. Kalau ada laki-laki selain adik saya, segera berlari ke kamar untu memakai jilbab. Salah saya juga sih, terlalu drastis. Siapa yang bisa menghalangi ghiroh agama saya yang saat itu masih baru, hangat fresh from the open, he he. Siapapun, di posisi saya pasti akan melakukan hal yang sama bukan (pede banget ya hihi)

Ditambah, saya juga langsung dilamar teman kecil saya, karena saat itu saya mengatakan, untuk berhenti berteman dengannya atau halalkan saya. Saya kini sudah mengerti apa itu ikhtilat. Padahal sebenarnya saya hanya berteman, tapi memang cukup akrab. Dia sudah jadi teman saya sejak saya kelas 6 SD. Sama-sama aktif di organisasi pramuka. Sejujurnya, saya tidak mencintainya. Karena saya benci sahabat itu jadi pacar. Karena dia sering ke tempat kost, saya mulai merasa risih. Terkadang di pengajian, sering disindir juga sama murobbi.

Disitulah awal mula, dia meminta ke papa untuk menikahi saya. Selisih umur kami 4 tahun yang jadi pertimbangan papa, juga beda suku. Mama itu sudah menjodohkan saya dengan laki-laki satu sukunya. Laki-laki asal Madiun, tapi  saya tolak mentah-mentah, karena saya tidak suka dengan perjodohan  itu. Semua, seperti puncak gunung berapi yang saat itu meletus berbarengan. Artinya, dengan saya berhijab mulailah satu persatu masalah mulai keluar dan berbenturan. Dan hijab saya jadi perantara untuk meletus semua. Semua masalah diangkat, dan dijadikan  orangtua untuk menyalahkan saya.

Papa mengusir saya, semua buku-buku kuliah saya dibuang papa. Mama menangis di sudut ruangan tanpa mampu menahan amarah papa. Saya, bingung tapi saya minta ampun saat itu pada keduanya. Sambil tetap memakai hijab, saya pamit ke mama untuk kembali ke tempat kost saya di Bogor sana.

Hari-hari tetap saya isi dengan belajar menyelesaikan studi saya, dan pengajian. Banyak yang menguatkan saya. Hingga akhirnya, saya mengambil keputusan untuk menikah dengan wali hakim. Saya tidak tahu, saat itu apakah saya menikah siri atau menikah agama, atau menikah gantung. Judulnya, saya halal untuk menerima laki-laki di tempat kost saya.  Selama 3 bulan putus hubungan dengan orangtua. Saya tidak berani pulang, merasa sudah diusir. Rindu ini saya pendam, walau sudah menjadi istri orang.

Suami berjanji akan terus menjalin silaturahmi kepada orangtua, bila orangtua saya sudah tenang. Dan bisa menerima keadaan hijab saya. Sayapun tidak pernah berhenti berdoa di setiap sujud saya. Dalam tangis, saya merindukan orangtua saya. Di rumah sebelumnya, saya sangat diandalkan orangtua untuk mengatasi maslah-masalah di rumah. Baik keadaan rumah maupun  tentang saudara-saudara saya. Walau posisinya anak ke-2, tetapi papa mama selalu mempercayakan segala permasalahan keluarga pada saya. Saya tahu mereka kehilangan, begitu juga saya.

Bulan ke-4, papa-mama datang ke tempat kost saya yang baru. Ya, karena saya sudah menikah, saya mau ada kamar sendiri, tidak bergabung dengan kawan seperti biasanya. Masalah privasi, itu alasan utamanya. Saya pindah tepat di bulan ke-4 sejak orangtua mengusir dari rumah. Dan 2 minggu sejak saya menikah. Mama menangis tanpa henti, papa kaku sekali terlihat. Sedih sekali melihat keadaan itu. Saya menutupi keadaan pernikahan saya. Takut mengoyak kemesraan yang baru dijalin lagi. Biarlah, Allah maha tahu apa yang ada dalam hati ini. Kelak saya percaya akan mendapat restu orangtua. Yakin sekali, dan  saya memilih lebih banyak diam.

Bersyukur sebenarnya, saya belum diberi kehamilan. Selain masih kuliah, juga belum mendapat restu mama-papa. Saya tidak berdoa meminta itu, namun saya yakin Allah punya maksud dibalik belum hamilnya saya. Hingga tiba, saat  yang tidak saya duga. Mama sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Mama kangen saya, dan meminta papa menelpon ke induk semang kost saya. Untungnya saat itu kuliah sudah sedikit longgar karena menjelang ujian semester.

Saya menempuh  jarak Bogor-Jakarta dan Bekasi bolak-balik. Ya mama dirawat di RS Jakarta. Dari Bogor saya ke rumah sakit, menemani mama, meladeni keperluan mama, tanpa sedikitpun mengeluh. Kadang saya bergantian dengan suami. Saat dia menjaga mama, saya pulang ke rumah Bekasi. Beres-beres rumah dan mencuci pakaian mama. Semua saya lakukan dengan ikhlas. Bentuk bakti saya pada mama yang telah melahirkan dan membesarkan saya sampai saat ini.

Kakak dan adik perempuan sebenarnya juga sedang liburan, tapi mereka memilih cuek dan justru memilih bertengkar dengan saya, dengan menyindir, memancing emosi saya. Saya berusaha tidak terpancing. Mama di rumah sakit sedang melawan penyakitnya, saya tidak ingin menambah beban pikiran papa juga. Walau  gejolak muda tidak bisa ditahan, namun saya berusaha terus istighfar. Mempercepat kerja saya, membereskan rumah. Menyiapkan segala keperluan  papa dan adik laki-laki yang  masih  SMP. Lalu berangkat lagi ke rumah sakit.

Itu saya lakukan sampai 3 minggu lamanya. Alhamdulillah, mama sudah lebih baik dan boleh kembali pulang ke rumah. Saya  ijin ke mama dan papa untuk kembali ke kost saya, mengingat saya juga sambil ujian semester. Saya berdoa untuk diberi kekuatan karena, jujur, remuk juga badan saya saat  harus bolak-balik melaju Bogor-Jakarta dan Bekasi. Dan bersyukurnya, penyakit bronchitis yang sejak kecil saya derita, itu  seperti hilang dan pergi dari kehidupan saya. Sudah hampir 2 tahun di Bogor, belum pernah kumat lagi.

Hingga pada suatu hari  2 minggu usai ujian, akhirnya pertahanan saya ambruk juga. Saya harus dibawa ke rumah sakit PMI terdekat. Kawan-kawan saya yang sangat khawatir segera menghubungi suami. Dan diapun sempat mengabari keadaan saya ke orangtua. Dan saya tidak tahu  berapa  hari saya baru sadar dari demam panas yang tinggi.  Rupanya saya kena  usus buntu, dan harus segera dioperasi, jika ingin saya segera pulih.  Dan papa mengambil keputusan untuk memindahkan saya ke rumah sakit Jakarta untuk memudahkan semua urusan, lagi pula rumah sakit yang ditanggung kantor papa di Jakarta itu. Tempat mama dirawat waktu itu.

Suami menawarkan diri untuk menjaga saya, untuk meringankan orangtua. Mama juga belum pulih. Papa kasihan sudah lelah, pulang kerja dari Cengkareng harus mampir ke rumah sakit lagi menjaga saya. Saya bilang nanti saja saat libur sabtu minggu, orangtua menengok ke rumah sakit. Disitu papa mulai mencair, melihat keadaan saya, dan kesungguhan suami mengurus saya, membuat orangtua mulai sadar. Bahwa saya memang sudah harus menikah. Walau dari sudut pandang papa yang berbeda.


Sejak itu episode baru hubungan orangtua kembali dimulai. Saya kembali pulang ke rumah Bekasi dengan suasana hangat lagi seperti sebelumnya. Walau masih menjaga rahasia pernikahan agama kami. Tugas saya adalah meluluhkan hati mama-papa untuk bisa menerima suami, dan berdoa kepada Allah, agar hidayah  ijin menikah itu segera hadir. (bersambung)

#Tugas KMO pertemuan 3

Posting Komentar

6 Komentar