Bayi Pertamaku , Setelah Menunggu Hampir 5 Tahun



Setelah hampir 5 tahun tidak mempunyai anak dan satu kali keguguran , membuatku sangat bahagia memiliki seorang bayi mungil laki laki pertama dalam keluarga kecilku . Kuberi nama Kemal Fathurrokhman , perpaduan inspirasi arti yang kurang lebih adalah “Pembuka jalan yang sempurna “ . Lahir dengan jalan normal dan memiliki berat hampir 3,3 kg . Sungguh , pengalaman yang luar biasa sekali saat saat melahirkannya . Hampir 2 minggu si bayi yang sejak didalam kandungan kerap kupanggil “ abang” ini sibuk mencari jalan lahirnya . Sering aku tertipu dengan rasa mulas yang kukira adalah waktunya untuk lahiran .


Pinggangku sering panas bagian belakang , atau perut bagian bawah sering merasa gatal yang amat luar biasa . Aku hanya berprasangka baik si abang rambutnya tebal dan bayi yang sangat aktif sehingga tidak bisa diam didalam rahimku sana . Mengurangi rasa keluhanku . Aku memang bukan jenis perempuan cengeng , sejak kecil terbiasa dilatih mama papaku untuk kuat menahan rasa sakit apapun. Yaa , kecilku hingga 19 tahun aku penderita Bronchitis dan magh akut . Tapi , karena orang tuaku bukan dari kalangan mampu , sehingga walau sering dirawat dengan fasilitas papa yang bekerja di Garuda Indonesia Airways ( GIA ) tapi seringkali orang tuaku mengajakku untuk tegar melewati rasa sakitku , yang bila sudah kumat bisa sampai 3 minggu dan harus tidur dengan bantal 6 tumpuk yang disenderkan ke badan dan kepalaku , mengurangi rasa sesakku yang terganggu pernafasannya .

Kembali ke si abang , aku membekali pengetahuanku sebagai calon ibu , dengan banyak membaca majalah ayah bunda yang rutin kubeli setiap bulan hingga jelang persalinan . Bahkan tas berisi perlengkapan menjelang lahiran sudah kusiapkan jelang 7 bulan usia abang dalam kandungan . Walau begitu , aku masih sempat berdagang perlengkapan ibadah islam dan baju gamis anak – dewasa , maklum sekian lama menunggu hadirnya momongan membuatku jenuh dan berusaha mencari kesibukan. Terlebih sejak aku memutuskan tidak berangkat ke Bengkulu menjalankan CPNSku sebagai guru di SMPN 5 Kapahiang Bengkulu – Sumatra . Suamiku keberatan bila harus berpisah denganku atau ikut pindah kesana karena walau kantornya punya cabang disana juga , namun , karirnya di Jakarta sedang bagus bagusnya sejak sukses membangun Pelindo .

Aku ingat sekali , jelang 9 bulan aku mulai merasakan mulas yang sering sekali intensitasnya , bahkan sering buang air kecil sebagai tanda bayi sudah mulai masuk ke persiapan lahir ditandai dengan perutku yang mulai agak turun . Namun bercak sebagai tanda pembukaan tidak pernah kualami . Sampai aku mengikuti saran tetangga untuk minum rendaman rumput Fatimah kering untuk memudahkan saat melahirkan.

Tiba masanya 9 bulan 1 minggu aku merasakan tarikan dan sakit yang amat kuat disertai mulas yang hampir 1 jam sekali . Bahkan sempat keluar cairan yang kami pikir pecahnya ketubanku . Suamiku berinisiatif untuk membawaku ke Rumah sakit yang waktu itu dari tempat tinggalku di Perumahan Bumi Sani Permai lumayan jauh yaitu Mitra Keluarga Bekasi Barat . Waktu itu belum ada cabang seperti di Bekasi Timur saat ini . Setibanya disana aku langsung ditangani dengan baik oleh Dokter Rudi yang memang menangani setiap aku kontrol kandungan , ternyata itu hanya cairan urine yang karena semakin terdesak kepala sang bayi sehingga mendorong cairan urineku keluar begitu saja . . Awalnya banyak ditangani suster perawat , aku diinduksi , dan diberi stimulasi untuk mempercepat pembukaan mulut rahim dokter Rudi paling hanya kontrol sekali kali . Namun sudah 2 hari tidak ada kemajuan , walau sempat keluar bercak lender seperti darah dan itu kukira robeknya ketubanku , ternyata pembukaan 2 mulut rahim tidak pernah maju sejak awal datang .

Aku memaksa suamiku untuk minta pulang , namun adik perempuanku satu satunya dari pihak suami mengusulkan untuk kembali kerumah mertuaku di Perumpung rawa bunga Jakarta Timur , agar begitu terasa lagi cepat membawaku ke Mitra Keluarga yang memang dekat sekali dengan pintu tol Bekasi Barat . Duluuu , belum seramai dan sepadat kendaraan saat ini . Aku hanya mengiyakan , karena suamiku merasa dengan keluarganya aku lebih tertangani , kesibukannya bekerja di kontraktor PP saat itu membuatnya hampir tak ada waktu untukku . Katanya dia sangat dipercaya , sehingga hingga tengah malampun dia yang bertanggung jawab terhadap pekerja dan mandor proyek yang seringnya bekerja lembur . Terlebih , dia tau aku pasti tidak akan bisa diam bila dirumah kami sendiri . Ataupun beristirahat . Yaa , aku memang dikenal sebagai pemilik TPA yang kurintis sejak aku tidak diijinkan berangkat mengambil CPNSku , begitu juga dengan ibu ibu pengajian yang kerap memintaku untuk mengajar mengaji hingga ceramah . Atau sebaliknya , mereka yang datang ke rumah untuk urusan dagang atau minta diajarkan membaca al quran. Untung urusan dagang sudah kuserahkan kesalah satu ibu pengajian untuk sementara waktu , begitu juga TPA ke wakil Kepala Sekolahku saat itu

Aku hanya satu hari satu malam di rumah mertuaku . Namun setiap saat kubawa berjalan , bekerja mengepel hingga mencuci baju demi mempercepat lahiran secara alami ketimbang obat dokter . Kuingat dokter mengatakan bahwa , bila sudah sering setiap 15 menit sekali harus segera ke Rumah Sakit.

Dan pagi ini setelah subuh aku mulai merasakan itu , padahal saat itu aku sedang kepasar menemani adik perempuan suamiku sambil melatih berjalan kaki . Dan rasanya sakiiiit sekali sehingga sering membuatku mengerang kesakitan dan membuatku melatih pernafasan . Suamiku yang saat itu baru tidur karena pulang pagi , dipaksa adik untuk mengantarku yang mulai terlihat pucat . Mertuaku dan adik begitu khawatir , sehingga dengan menggunakan taxi kami menuju ke Rumah sakit .

Tapiiiii, sekali lagi sampai disana pembukaan baru yang ke 4 belum ada tanda tanda bayi akan segera lahir walau aku sering mulas . Ya Allah , abang, ayo naak bantu ibu untuk kamu segera lahir sayang , kataku dalam hati sambil terus mengelus perutku sambil berdoa . sampai jam 12 aku semakin mengerang kesakitan , dokter sudah berkali kali menawarkan untuk Operasi Caesar , tetapi aku selalu menolak . Sampai aku katakan kepada suamiku yang sempat tidur di mushola rumah sakit karena mengantuk . Ayaaaah , abang minta ditungguin kali , ayah kesiniii , jangan kemana mana kataku manja saat ku telpon dengan menggunakan pager skylink , bukan seperti hp yang ramai seperti saat ini.

Benar saja , bayiku mulai berinteraksi hebat jelang jam 15 siang , aku berusaha mengejan sekuat tenagaku agar pembukaan terus maju . Dokter saat itu diruang pemeriksaan kandungan , tidak ada diruang persalinan . hanya ada perawat yang berjaga jaga . Aku terus mengejan dan mengejan . Sambil berlatih bernafas sekali kali .seperti majalah ayah bunda ajarkan . Akhirnya suamiku berteriak berapa menit jelang pukul 16 sore . Buuu , tahan bayinya mau keluar kelihatan rambut hitamnya . Beliau panik memanggil suster , dan susterpun segera menghubungi dokter Rudi . Hampir 5 menit baru dokter datang , dan segera memberi intruksi kepada suster serta meminta suamiku keluar , aku menangis jangan dokter aku ingin dia menemani aku , si abang sejak ayahnya datang seperti tahu dan ingin segera keluar . Dokter mengalah . Sementara dokter dan suster bekerja menangani suamiku disebelah memegang tanganku memberi kekuatan , sambil wajahnya tak lepas dari tempat sang bayi akan lahir.

Dan tepat pukul 16 , suamiku berteriak Allaaahu Akbar pekiknya , sementara aku terus mengejan sesuai instruksi dokter . Hingga aku kemudian terkulai lemas saat abang sudah keluar seperti informasi dokter , belum kudengar tangisnya bayi , namun aku sudah lemas sekali . Samar samar kudengar sang suster yang sudah membawa abang yang sudah terbungkus kain rapih didekatku ,buuu anaknya laki laki yaa, semuanya lengkap nih sambil menyorongkan wajah abang ke pipiku . Aku hanya berucap “ subhanallah , Alhamdulillah ya Allah .

Sementara sang dokter sedang sibuk mengeluarkan ari ari bayi yang tertinggal dirahimku , Ayahnya mengurus abang bayiku dan aku merasa tertidur pulas kelelahan . Sehingga bangun bangun disekelilingku sudah ada papah mamahku , mertua dan adiku , dan akupun sudah berada diruang perawatan . Mereka semua mengucapkan selamat , aku bahagia sekali , Lenyap rasa sakit yang selama ini kurasakan , begitu juga lelahku . Berganti kebahagiaan , karena bayi yang kutunggu untuk melengkapi kebahagiaan keluarga kecil kami telah hadir tanpa melalui operasi Caesar . Aku tak perduli bagaimana beratku saat itu hampir 85 kg hampir 2 kali lipat dari beratku saat aku belum menikah . Buat seorang wanita , apapun akan dihadapi reksikonya demi memiliki hadirnya momongan .

Suamiku bercerita dengan bangga bagaimana si abang sepertinya meminta untuk ditunggu ayahnya akan kehadirannya di dunia ini . Dan yang paling luar biasa adalah bagaimana ayahnya melihat detik detik kehadiran abang , katanya seperti metalik warnanya kemudian mengembang diluar seperti kerupuk , subhanallah kebesaran Allah ya buuu. Itu yang berkali kali diucapkan, yaa bagaimana bisa dari lubang kemaluanku sekecil itu lahir seorang bayi dengan ukuran kepala lebih dari 10 cm dan berat 3,3 kg.

Kini sang bayi itu sudah hampir berusia 20 tahun , 24 Juni 2015 ini , Sulungku abang Kemal Fathurrokhman sudah besar, ganteng , pintar dan sholeh . Dia sangat dekat dengan ayahnya , katanya bayi yang sejak lahirnya ditunggui sang ayah itu akan sangat dekat dengan ayahnya . Ya , abang memang sangat dekat dengan ayahnya , kuingat , peka sekali perasaannya . Apa yang akan terjadi dengan ayahnya dia selalu merasakan lebih dulu , begitu juga dengan 2 orang adiknya sangat dekat . Walau kini sang ayah sudah tiada sejak 15 Januari 2013 lalu . Hadirnya sang ayah masih dirindunya sampai kini . Semoga Allah menjadikannya laki laki seperti ayahnya yang dirindunya , kelak dia berumah tangga nanti , amiiin ya robbal alamiiin.

Griya Tambun , 29 Desember 2014 penuh kebanggaan

Posting Komentar

6 Komentar