Ya Allah di Ruang ICU Hatiku Deg-deg an . . . .

Pixabay

Aku terkaget dan terbangun, ketika suara tangis pecah berkumandang dari seorang wanita yang tadi masuk bersamaan dengan suamiku. Ya Allah, katanya jam delapan malam masih datang ikut arisan di RT,  jam sepuluh malam istrinya dibangunkan suaminya untuk minta kerokan. Namun,  jam 12 malam tidurnya kejang-kejang dan akhirnya pembuluh darahnya pecah. Itulah riwayat kenapa perempuan itu kini meraung-raung seakan tak rela.

Tak beda denganku, suamiku jam delapan masuk bangsal jam sepuluh  malam sesak nafas tidak ada oksigen yang bisa masuk, dan dokter memberiku solusi dirawat di ruang ICU agar ada observasi perhatian lebih . Sejak malam kemarin aku tidak tidur sama sekali menungguinya, yang sudah hampir setahun ini sakit dan 3 bulan belakangan ini kritis, sempat terhenyak dan bingung harus apa. Sendiri tanpa anak-anakku, mereka juga sudah letih jadi kusuruh istirahat di rumah .


"Serahkan kepada yang Maha ya,Bu." Dokter seakan menangkap kelinglunganku. 

Belum terlambat bagi suamiku masuk ruang ICU, sehingga masih bisa segera ditangani, namun pengalaman berada di ruang ini sungguh mendebarkan. Deg-degan, itulah suasana yang menggambarkan situasi hatiku. Begitu banyak yang parah seolah menunggu mautnya, bahkan satu - persatu bertumbangan seperti suami ibu tadi. Itu sangat merembet ke psikologisku. Terlebih saat mayat itu lewat di depan tempat tidur suamiku, Ya Allah kuatkan aku. Semoga dokternya cepat datang dan kami bisa segera meninggalkan tempat ini secepat mungkin. 

Entah apa yang ada di benak ini, ribuan adegan banyak bermain dan menari meminta perhatian. Minta diputar untuk mengurai kusutnya permasalahan yang tak kunjung usai membersamai. Jutaan rasa tak cukup mewakili apa yang tersimpan rapih dalam hati ini. Dalam diamku hendak menulis apapun aku tak tahu. Ingin bicara mengeluarkan emosi sampah yang terus berjejal dalam setiap sudut ruang waktu. 

Terekam jelas siang itu pulang cepat. Tetiba suster di rumah minta berhenti tanpa alasan jelas. Perempuan Sunda yang baik, dan mau menolong kami sementara aku harus mencari uang demi tegaknya rumah tangga ini yang sudah abnormal sejak 1998. Atas nama ego dan post power sindrom mantan kepala keuangan yang terbiasa mudah mencetak dan menyulap segalanya dengan uang. Kini setelah sekian tahun membisu dalam rahasianya, aku menikmati sakitnya bersama anak-anak. 

Tak bisa kutahan sedikitpun kehendak suster untuk bertahan beberapa hari hingga tiba gajiku keluar. Seakan menyimpan sesuatu yang tak sanggup diungkapkan padaku. Padahal, bungsu sedang ke Jogja sampai tiga hari ke depan. Tengahku masih PKL praktek kerja lapangan di Kemendikbud, kali ini diajak mendampingi Diklat dua hari ke depan oleh atasannya di Puncak Bogor. Terpaksa kulepas suster itu berhenti dan meminta pulang. 

Apa daya, harus ijin lagi dan menghadap kepsekku yang bijak di tempatku mengabdi. Malu, tapi tak punya pilihan . . . Kepercayaannya padaku membuatnya selalu mengijinkan sekalipun via telpon kali ini. Kulihat suamiku pucat pasi seakan meminta sesuatu padaku. 

"Ayah lebih suka dia tidak di sini. Selalu melarang dan ikut campur urusan," Suamiku seakan mengadu. Aku hanya bisa menghibur dan menenangkannya, memilih tak berdebat dengannya. Segera kurapihkan urusan dengan suster, dan membuka kembali celenganku di lemari. Biarlah, semoga Allah mencukupi keluarga ini sampai ada keuangan yang masuk kembali, batinku sesak. 

Baru saja kutinggal sebentar memesan ojek ke rumah saudara susterku tadi, kudengar teriakan suamiku.

"Minta oksigen, oksigen . . ."Napasnya tersenggal dan tangannya seakan ingin meraih sesuatu. 

Baru sadar oksigennya ternyata habis, panik hendak minta tolong ke siapa. Jelang Maghrib perumahanku sepi dari anak-anak muda. Segera aku lari ke depan rumah, minta tolong mbak asisten RT yang selalu baik kuminta pertolongan. 

"Bunda, maafin mbak . . .si ayah kenapa? " Belum juga terucap seakan sok tahu kali ini. 

"Mbak tolong tunggui ayah, aku mau beli isi tabung gas yaa . . .ceritanya nanti saja"  Pungkasku akhirnya. Tak ingin berlama-lama. Alhamdulillah si Mbak
menyanggupi. 

Tapi, begitu kami masuk rumah dan aku mengambil tabung gas, keadaan ayah mulai kejang-kejang. Sepertinya tak mungkin untukku membeli gas lagi. Mencari taksi secepat mungkin dan membawanya ke UGD adalah pilihanku saat itu. 

Semua begitu cepat, dengan hanya memakai sandal jepit serta mengajak si mbak menemaniku aku bersyukur, majikannya mengijinkan ku. Dari UGD, masuk bangsal, tapi tak lama dokter visit langsung merujuk ke ICU. Itu kenapa aku hanya diam mematung kali ini di bangku luar tempat tunggu. Tidak boleh menunggu di dalam. Terngiang juga ucapan si Mbak pembantu depan yang kupinjam untuk menemani. 

"Bunda, tadi ada perempuan bersama anaknya nindik-nindik datang. Memaksa suster untuk membukakan pintu pagar, entah apa maksudnya. Sejam kemudian, dia marah-marah keluar dari rumah bunda. Dan suster menangis sambil mengunci pintu pagar lagi." 

Akhirnya rahasia itu terbuka dan disaksikan orang di luarku. Yang selama ini hendak kututup tanpa ingin anak-anak dan keluarga besar tahu. . . 

Padahal, seminggu lalu dokter baru saja bilang dengan bangga, kalau ginjalnya sudah bagus dan turun, dengan bantuan terapis herbal di Kerawang yang kuperjuangkan seminggu dua kali ke sana. Kini, dia merusak begitu saja usaha dan perjuanganku mengobatinya selama ini. Dengan adegan satu jam saja, dan membuat susterku pulang dan suamiku harus masuk ICU. 

Griya Tambun , Pengalaman 9 Desember 2012

Posting Komentar

6 Komentar