Belajar dari Korea , Beranikah Kita ?



Indonesia harus belajar berani seperti Korean Selatan yang menindak lanjuti kasus
"Skandal Kacang" Macadamia, yang membuat putri pertama konglomerat Seoul yang juga pemilik Korean Airlines harus meninggalkan jabatannya sebagai wakil presiden Korean Air.( http://brita.indo.com/2014/12/penerbangan-ditunda-hanya-gara-gara-kacang-putri-korean-airlines-dipecat-fiskal-indonesia/) dan menjadi perhatian pemerintahan Korea Selatan . Artinya tidak lantas dipeti es kan . Adakah kita sudah dan akan seberani itu ? Seperti baru baru ini dengan musibah pesawat Air Asia

Sistem pengaturan angkutan umum udara Indonesia yang masih carut marut menjadi pekerjaan rumah besar bagi Menteri Perhubungan Ignasius Jonan. Ia pun diharapkan bisa melakukan perubahan yang signifikan dalam industri perhubungan udara terutama dalam faktor keselamatan ."Kami banyak dapat kritik kecaman dan problem soal angkutan udara, karena itu pembenahan pertama memang perhubungan udara dari pak Jonan," ujar Staf Ahli Menteri Perhubungan Hadi Mustofa Djuraid di kantor Dewan Pers, Jakarta, Rabu (7/1/2015). Menurutnya pembenahan tersebut harus segera dilakukan, pasalnya bedasarkan data dari Federal Aviation Administration, industri perhubungan udara Indonesia turun peringkat dari nomor dua ke nomor satu . (http://bisnis.liputan6.com/read/2157838/menhub-diharapkan-bisa-ubah-industri-transportasi)

Sebenarnya tidak hanya angkutan udara saja , tapi angkutan darat dan air semua harus bersatu padu untuk berani merubah diri dan manajemen professional dalam rangka meningkatkan pelayanan publik dan keselamatan penumpang . Yang saya soroti disini adalah angkutan darat yaitu mengenai angkutan umum yang bagus dan layak jalan , sehingga dapat memikat hati masyarakat untuk mau beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan umum . Yang itu otomatis akan berimbas pada pengurangan kemacetan dan penggunaan bbm yang nyata nyata di Indonesia sudah sangat tinggi .

Trans Jakarta atau populer dengan Busway , atau kereta api komuter yang melayani angkutan jabodetabek belum memenuhi dahaga masyarakat akan kerinduan transportasi yang lebih baik . Walau patut diakui pihak KAI saat ini terus berbenah bak putri cantik yang terus sibuk bersolek . Begitu juga angkutan umum seperti angkot / bis umum yang nyata nyata menjadi salah satu penyumbang kemacetan . Mulai dari tidak tertib berhenti seenak nya dimanapun (yang mungkin itu juga dari kita sebagai penumpang yang mau mudahnya ) . Padahal begitu banyak halte yang dibuat di Jakarta atau jabodetabek lainnya , umumnya hanya jadi tempat berjualan koran atau makanan . Dan kurang difungsikan .

Seharusnya mulai dari perijinan yang lebih diperketat , dan peraturan mengikat dan konsisten bagi pelanggar . Bukannya ada kejadian , baru ditindak lanjuti , yang maaf hangat hangat tahi ayam . Begitu kasus ditutup atau diselesaikan tanpa ada info shock terapy untuk pelanggar , kasus berulang lagi . Akhirnya , baik pihak masyarakat , angkutan umum dan keamanan / aparat hukum bermain mata lagi . Sehingga wajar bila ada anggapan miring disebagian masyarakat yang itu diikuti anak anak muda dan pelajar , bahwa Hukum di Indonesia itu untuk dilanggar , bukan untuk ditaati . Kalau ada yang melanggar atau ada kejadian , ya diurus itu demi memuaskan masyarakat sementara saja , cingcai lah ! Itu artinya Hukum bisa dipermainkan dan diperjual belikan demi keuntungan oknum semata yang berani mengorbankan harga diri bangsa demi rupiah . Seperti waktu tulisan saya di http://misjulie.blogspot.com/2015/01/apakah-disiplin-itu-barang-langka-untuk.html .

Dibutuhkan keinginan kuat dan action pelaksanaan dilapangan yang berkelanjutan dan selalu dievaluasi , sehingga membuat siapapun jeri untuk mencoba melanggar atau bermain mata dengan pihak aparat hukum . Kalau tidak sekarang kapan lagi , Jangan sampai ada anggapan bahwa harga nyawa di Indonesia itu sangat murah , semurah membeli perijinan angkutan baik udara , darat maupun perairan . Ayo pak presiden , saya tahu tidak mudah memimpin negara ini , dan merapikan benang benang kusut birokrasi dan pengaturan . Jangan hanya jago blusukannya saja , tetapi jagolah untuk menyelesaikan permasalahan , mencari solusi atau paling tidak mengurai benang kusut ini agar lebih mudah diurai . Mumpung bapak masih menjabat bersama tim kabinet bapak yang siap bekerja setelah melalui seleksi ketat bapak , suara bapak saat ini lebih didengar dan diperhatikan . Kalau perlu belajar dari Korea Selatan atau negara negara lain yang berani bertindak tegas demi keselamatan dan kenyamanan masyarakat dalam melakukan mobilitasnya . Butuh keberanian !!

Griya Tambun , 12 Januari 2015

Posting Komentar

2 Komentar