JADIKAN AKU PERTAMA DALAM HIDUPMU



Aku mengenalnya sebagai gadis manis dan supel. Siapapun yang meman dangnya pasti setuju, kalau dia adalah gadis yang menyenangkan. Setahun mengenalnya lebih dekat, aku merasakan kenyamanan. Segala pembicaraan kami pasti nyambung,  bisa berjam-jam terlibat pembicaraan yang menyenangkan. 

Namun, setiap pembicaraanku untuk main kerumahnya atau sesuatu yang lebih dalam pasti dia akan mengalihkan dengan cepat. Perlu kesabaran untuk dapat mengajaknya jalan atau dapat berbicara asyik dengannya. Ria, gadis itu memang seperti merpati , jinak-jinak cuek. Tapi, asyik juga aku berburu hatinya. 

Hingga, tiba saatnya dia bercerita atau kalau boleh kukatakan curhatnya. Saat kulihat suatu hari di pojok kampus, dia asyik dengan gawainya, hanya wajahnya terlihat galau. Ketika aku duduk di sebelahnya, dia menyambutku dengan cuek sambil menggeser pantatnya sedikit memberi ruang untukku.

"Tumben, nggak berkicau guys" Kataku membuka pembicaraan. Dia kembali menolehkan wajahnya untuk senyum terpaksa, lalu manyun lagi. 

"Ya sudahlah, kalau aku mengganggu" Kataku merasa dikacangin sambil bersiap-siap pergi. Ternyata, ups! dia menarik tanganku untuk tetap menahanku duduk. 

"Nggak, aku bete nih! Tunanganku ngambek, aku capek njelasin ke dia apa saja aktifitasku dan kemana saja setiap hari bla-bla" Itulah awalnya dia mau sharing tentang keadaan hatinya. 

Aku mencoba menjadi pendengar yang baik untuknya dan sesekali mengkomentari bila dikehendaki. Setelah kurang lebih satu jam sedikit demi sedikit wajahnya kembali mulai cerah.

"Nah gitu dong! kataku menggoda, 
"Baru itu namanya gadisku..!ups!! keceplosan."

Sejenak wajahnya memerah, tapi dengan cepat aku berkata 
"Bercanda guys, jangan diambil hati..he he." Ternyata cukup ampuh juga kata-kata itu,  padahal sebenarnya itu ungkapan hatiku yang sebenarnya. 

Sejak itu aku jadi makin dekat dengan Ria gadis manis teman satu fakultasku di kampus. Seringnya berdekatan makin menambah tumbuh suburnya rasa suka padanya. Walau aku tahu itu bukan hal yang mungkin. Ria sudah bertunangan dengan kakak kelasnya dulu di SMA dan saat ini sudah bekerja sebagai diplomat. Rupanya, mereka menjalani Long distance. Entah apa posisiku di hatinya, namun yang jelas saat dia senang artinya sedang berdamai dengan tunangannya, dan itu cukup menguntungkan aku. Karena aku selalu menemukan wajah yang bersemangat dan itu cukup memotivasiku untuk selalu datang ke kampus. Hal ini berlangsung hingga semester akhir kami. Aku harus sabar menghiburnya saat hubungannya dengan tunangannya itu sedang penuh riak.

Hingga tiba pada saatnya, aku tidak tahan untuk berkata padanya saat dia kembali curhat tentang tunangannya, Setelah usai bercerita...

"Ria , aku lelah jadi orang kedua dalam hatimu, nggak lelah kamu seperti ini berhubungan dengan laki-laki yang tidak ingin mengerti kamu dan menjalani Long Distance Love? Aku sayang kamu, Ria, ingin jadi orang pertama dalam hatimu..please " Kataku dengan mantap. 

Ria terkesiap dan tak siap untuk kutembak dengan kata-kataku seperti itu. Dan, reaksi yang tak kuduga adalah tiba-tiba dia meninggalkanku dengan amat cepat tak memberiku kesempatan. Tinggalah aku termangu,  menyesali kecerobohanku untuk berkata seperti itu, justru saat Ria butuh dukunganku.

Hampir satu minggu aku kehilangan Ria, sms, WhatsApp, dan telponnya membisu. Semua temannya tidak ada yang bisa menjawab kemana Ria saat ini. Ada satu hati  yang hilang jadinya. Aku menjalani kuliah dengan separuh jiwaku memikirkan kehilangan keceriaan bersama Ria. Tak ada yang mampu membuatku tertawa kembali. Sedih dan penyesalan bercampur aduk dengan segala perasaan yang ada di hatiku.

Pada minggu kedua sejak kepergiannya,  Senin pagi ini saat  kuparkir mobil di parkiran dan menguncinya, sebuah suara kukenal memanggilku pelan 
"Angga, aku kangen kamu" Kata suara itu. Aku menoleh kebelakang seakan tak percaya..Ria, yang ada di hadapanku. 

"Butuh waktu untukku menyadari kalau ternyata justru kamulah orang pertama dalam hidupku yang aku mau Ngga," katanya mantap. Aku seakan tak percaya mendengar kata-katanya. Tak membuang waktu, segera kurengkuh tubuhnya dalam pelukanku sambil melampiaskan rinduku padanya. Tuhan, akhirnya kau mendengar doaku, batinku. 

"Tapi, maafkan aku Angga. Baktiku harus kuserahkan pada Ummi dan Abi, besok aku harus melaksanakan akad nikah dengan tunanganku. Rabu aku berangkat menemaninya tugas di negara baru." 

Krek! Aku mendengar suara patah dalam dada. Hatiku.

Posting Komentar

6 Komentar